“Ke depan, meskipun kondisi operasional pada beberapa bisnis kami masih tetap menantang, kami memperkirakan sentimen konsumen secara keseluruhan akan membaik,” kata Djony.
Adapun, pendapatan bersih konsolidasian grup sepanjang 2025 mencapai Rp323,4 triliun, susut 2% dibandingkan dengan tahun buku 2024.
Koreksi pendapatan itu disebabkan karena penurunan kontribusi dari bisnis jasa penambangan dan pertambangan batu bara serta bisnis mobil baru, yang diimbangi oleh kinerja yang lebih baik dari bisnis pertambangan emas, jasa keuangan dan bisnis sepeda motor.
Mengutip laporan keuangan perseroan, beban pokok pendapatan ASII ikut susut ke level Rp251,94 triliun, dari posisi beban tahun sebelumnya sebesar Rp255,42 triliun.
Nilai aset bersih per saham pada 31 Desember 2025 naik sebesar 8% menjadi Rp5.692.
Kas bersih, tidak termasuk anak perusahaan Jasa Keuangan Grup, mencapai Rp7,2 triliun pada 31 Desember 2025, menurun dibandingkan Rp8,0 triliun pada 31 Desember 2024.
Utang bersih anak perusahaan jasa kuangan grup mencapai Rp64,9 triliun pada 31 Desember 2025, meningkat dibandingkan Rp60,2 triliun pada 31 Desember 2024.
“Ke depan, meskipun kondisi operasional pada beberapa bisnis kami masih tetap menantang, kami memperkirakan sentimen konsumen secara keseluruhan akan membaik,” kata Djony.
Di sisi lain, manajemen akan mengusulkan dividen final sebesar Rp292 per saham pada rapat umum pemegang saham tahunan perseroan pada April 2026.
Nilai dividen final itu lebih rendah dari pada posisi tahun buku 2024 sebesar Rp308 per saham.
Kendati demikian, dividen final yang akan diusulkan tersebut, ditambah dengan dividen interim sebesar Rp98 per saham (2024: Rp98 per saham) yang telah dibagikan pada Oktober 2025, menjadikan total dividen yang diusulkan untuk tahun 2025 sebesar Rp390 per saham (2024: Rp406 per saham), dengan rasio pembayaran dividen sebesar 48%.
(naw)






























