Logo Bloomberg Technoz

Dalam diskusi tersebut, pejabat AS sempat duduk berhadapan langsung dengan delegasi Iran dengan didampingi mediator Oman. Utusan Trump, Tom Barrack, dan Penasihat Keamanan Nasional Inggris, Jonathan Powell, juga hadir di lokasi perundingan.

Berbeda dari era sebelumnya, kali ini pihak Iran justru mengambil inisiatif dengan menyusun draf proposal tertulis untuk diajukan kepada Amerika Serikat. Namun, isu krusial tetap membayangi, juru bicara Kemenlu Iran Esmail Baghaei menegaskan bahwa Teheran tidak akan membiarkan stok uranium yang diperkaya tinggi miliknya dibawa keluar dari negara tersebut.

Meskipun pihak AS belum berkomentar secara terbuka, Washington sebelumnya memberi sinyal bahwa Iran harus mengirim stok uraniumnya ke negara lain atau mengencerkannya.

Laporan Wall Street Journal menyebut tim AS mengajukan tuntutan keras, termasuk penghancuran tiga situs nuklir utama di Fordow, Natanz, dan Isfahan. AS juga menuntut kesepakatan permanen tanpa adanya sunset clauses (batas waktu berakhirnya perjanjian).

Ketegangan ini terjadi di tengah pengerahan militer AS terbesar di Timur Tengah sejak invasi Irak tahun 2003. Trump telah mengirim dua gugus tugas kapal induk sebagai peringatan keras dan memberikan tenggat waktu sekitar 10-15 hari bagi Iran untuk menyepakati perjanjian.

Pasar global terus memantau situasi ini dengan cermat. Konflik berkepanjangan di Teluk Persia berpotensi melonjakkan harga minyak dan memicu inflasi. Harga minyak Brent sempat naik 1,8% ke level US$72 per barel sebelum akhirnya melandai. Sepanjang tahun ini, harga minyak telah naik lebih dari 18% akibat kebuntuan AS-Iran.

Fokus para pelaku pasar kini tertuju pada potensi gangguan di Selat Hormuz, jalur distribusi minyak vital di selatan Iran. Analis memperkirakan Iran akan memutus jalur ini jika serangan AS terjadi. Di sisi lain, militer AS semakin memperkuat posisinya; pejabat kabinet keamanan Israel, Avi Dichter, mengonfirmasi bahwa jet tempur F-22 dan pesawat pengisi bahan bakar AS telah ditempatkan di Israel.

Bagi Teheran, prioritas utama tetaplah pencabutan sanksi ekonomi yang telah memicu krisis mata uang dan aksi protes besar-besaran di dalam negeri. Sementara bagi Trump, tujuan utamanya tetap memastikan Teheran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, sembari terus mendesak Iran untuk membahas program rudal balistiknya.

(bbn)

No more pages