Logo Bloomberg Technoz

"Sekarang kan kita sudah juga ya Menteri Keuangan ngobrol dengan kita bahwa dia juga tidak akan meng-encourage yang namanya special rate itu," jelas Dian.

Menurut Dian, pengetatan praktik negosiasi special rate juga akan diterapkan pada lembaga pemerintah maupun BUMN.

"Bahkan lembaga pemerintahan atau BUMN dan lain sebagainya pun yang melakukan negosiasi itu sekarang disuruh ditekan. Nah kalau itu bisa ditekan, itu kan ada insentif kan," tuturnya.

Dian menilai selama ini praktik special rate membuat biaya dana perbankan lebih tinggi karena bank harus bersaing menawarkan suku bunga simpanan yang lebih besar kepada deposan tertentu.

Dengan biaya dana yang lebih rendah, ruang penurunan bunga kredit menjadi lebih terbuka. Menurutnya, suku bunga kredit yang lebih kompetitif akan mendorong dunia usaha dan masyarakat untuk kembali mengajukan pinjaman.

"Kalau misalnya kreditnya terlalu tinggi terus keuntungan perusahaannya berapa kan gitu kan. Jadi kalau semakin ditekan biaya kredit tentu nanti biaya kredit dan kreditnya sendiri akan turun kan," kata dia.

Walhasil, penurunan bunga kredit bakal berdampak langsung terhadap peningkatan aktivitas ekonomi.

"Nah kalau itu bunga kredit ke nasabah itu akan turun tentu ini akan meng-encourage orang untuk melakukan pinjaman untuk konsumsi, untuk macam-macam lah. Sehingga perekonomian akan semakin menggeliat,” jelas Dian. 

Imbauan BI Turunkan Suku Bunga

Dalam kesempatan lain, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengakui transmisi penurunan suku bunga kebijakan terhadap suku bunga perbankan terus berlanjut, tetapi lebih terbatas. Suku bunga deposito 1 bulan baru turun sebesar 68 bps dari 4,81% pada Januari 2025 menjadi 4,13% pada Januari 2026.

“Sehingga upaya untuk mengurangi pemberian special rate kepada deposan besar yang saat ini masih mencapai 26,42% dari total DPK, perlu terus dilanjutkan,” ujarnya, Kamis (19/2/2026).

Dia melanjutkan, penurunan suku bunga dana tersebut juga perlu makin ditransmisikan ke penurunan suku bunga kredit perbankan yang baru turun 40 bps, dari 9,2% pada awal 2025 menjadi sebesar 8,8% pada Januari 2026. 

“Ke depan, upaya penurunan suku bunga dana dan kredit perbankan masih perlu terus ditingkatkan agar dapat mendorong pertumbuhan kredit lebih tinggi guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tegas Perry.

(ell)

No more pages