Donald Trump sebelumnya telah memperingatkan bahwa ia tengah mempertimbangkan berbagai opsi serangan militer jika perundingan gagal mencapai kesepakatan, meskipun ia menegaskan lebih menyukai jalur damai. Di sisi lain, ia telah memerintahkan penumpukan militer AS terbesar di kawasan Timur Tengah sejak Perang Teluk kedua pada tahun 2003.
Hingga kini, Trump dan pejabat administrasinya seringkali memberikan pernyataan publik yang bertentangan mengenai apa yang sebenarnya mereka inginkan dari kesepakatan baru dengan Teheran. Utusan khusus presiden, Steve Witkoff, dan menantu Trump, Jared Kushner, dijadwalkan berpartisipasi dalam putaran baru pembicaraan AS-Iran di Jenewa pada Kamis (25/2).
Pemerintahan Trump sebelumnya juga sempat menuai kritik keras dari anggota Kongres karena dianggap kurang memberikan informasi sebelum mengambil tindakan militer. Salah satu presedennya adalah saat pasukan AS menangkap pemimpin otoriter Venezuela, Nicolas Maduro, pada Januari lalu.
"Mungkin kita akan mendengarnya malam ini, namun jika tidak, kita perlu mendengarnya dalam waktu yang sangat, sangat segera," kata Warner, merujuk pada pidato State of the Union Trump yang dijadwalkan berlangsung pukul 21.00 waktu Washington.
Secara terpisah, CIA merilis kembali panduan dalam bahasa Farsi pada Selasa pagi. Langkah ini bertujuan untuk memastikan warga Iran memiliki metode yang paling aman untuk menghubungi badan intelijen tersebut guna berbagi informasi.
(bbn)




























