Logo Bloomberg Technoz

Besaran tersebut dikalkulasikan jika implementasi mandatori E10 diberlakukan secara nasional.

“Indonesia adalah negara dengan populasi keempat terbesar di dunia, dan adopsi campuran etanol 10% secara nasional dapat membuka pasar sebesar 900 juta galon bagi produsen dan petani Amerika,” kata Skor dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu (25/2/2026).

Impor Bensin Etanol

Dalam dokumen berbeda, Growth Energy mengungkapkan secara umum impor etanol Indonesia dikenakan tarif sebesar 30% dan secara keekonomian tidak kompetitif jika dibandingkan dengan campuran lainnya.

Untuk menghindari tarif itu, tulis Growth Energy, Indonesia mengimpor bensin yang sudah dicampur etanol dan dapat masuk ke Indonesia tanpa bea masuk. Mereka mencatat bensin campuran etanol tersebut biasanya diimpor dari Singapura.

Growth Energy juga menyoroti lambatnya pencampuran bioetanol dalam bensin di Indonesia, padahal campuran minyak kelapa sawit ke solar sudah dilakukan sejak lama dan tingkat campurannya terus meningkat.

Asosiasi Perdagangan Biofuel AS tersebut menilai hal itu terjadi karena keterbatasan bahan baku bioetanol yang tersedia di Indonesia.

“Meskipun mungkin ada upaya untuk memprioritaskan produksi domestik, hal ini tidak boleh dianggap sebagai hambatan saat ini, mengingat fleksibilitas potensial untuk impor. Jika Indonesia menerapkan mandat E10 secara nasional, hal ini akan menghasilkan pasar ekspor potensial sebesar lebih dari 900 juta galon,” tegas Growth Energy.

Sekadar informasi, RI diwajibkan untuk tidak memiliki kebijakan yang menghalangi impor bioetanol asal AS, sebagai bagian dari kesepakatan tarif resiprokal antarkedua negara.

Dengan begitu, peluang impor bioetanol dari negeri Paman Sam kini makin terbuka lebar pada saat pemerintah berkeinginan untuk menerapkan mandatori bioetanol dalam beberapa tahun ke depan.

Hal tersebut tertuang dalam dokumen kesepakatan perundingan tarif resiprokal Indonesia dan AS, yang baru saja dirilis oleh White House di Washington D.C. pada Kamis (19/2/2026) waktu setempat.

“Indonesia tidak akan mengadopsi atau mempertahankan kebijakan apapun yang menghalangi impor bioetanol dari Amerika Serikat,” tulis dokumen yang dirilis White House, Jumat (20/2/2026).

Kemudian, Indonesia berkomitmen untuk terus meningkatkan campuran bioetanol dalam bensin tersebut hingga 20% atau E20. 

Hal tersebut akan dilakukan mempertimbangkan ketersediaan pasokan dan kesiapan infrastruktur pendukung.

Adapun, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sendiri berencana mendorong program mandatori bensin dengan campuran bioetanol 10% atau E10 mulai 2028.

Nantinya, produksi bioetanol domestik bakal dikerek menjadi 800.000 kl, dan naik menjadi 1,28 juta kl pada 2030.

Pada 2025, dilaporkan bahwa kebutuhan bensin nasional mencapai 37,3 juta kl, dari besaran itu impor bensin dialokasikan sebanyak 22,9 juta kl dan produksi domestik sebesr 14,34 juta kl.

Sementara itu, produksi bioetanol nasional tercatat baru sebesar 60.000 kl pada 2025–ketika program E5 sudah mulai dilaksanakan pemerintah.

Pada tahun ini, kebutuhan bensin nasional diprediksi sebesar 38,1 juta kl. Dari angka itu, impor bensin direncanakan sebesar 23,7 juta kl dan produksi bensin nasional diramal mencapai 14,27 juta kl.

Kemudian, rencana produksi bioetanol nasional pada tahun ini diprediksi naik menjadi 13.000 kl ketika kebijakan E5 dilakukan.

Pada 2027, kebutuhan bensin nasional diproyeksikan mencapai 38,9 juta kl. Kebutuhan itu akan dipenuhi dari impor sebesar 24,5 juta kl dan 14,22 juta kl dipenuhi dari produksi nasional.

Di lain sisi, rencana produksi bioetanol, ditargetkan mencapai 18.000 kl seiring penerapan E5. 

Memasuki 2028, Kementerian ESDM menargetkan mandatori E10 diimplementasikan. 

Nantinya, kebutuhan bensin nasional diperkirakan meningkat jadi 39,9 juta kl dan akan dipenuhi dari impor sebanyak 24,7 juta kl serta dari produksi domestik 14,40 juta kl.

Seiring dengan rencana penerapan mandatori E10, produksi bioetanol nasional bakal dikerek menjadi 800.000 kl.

Pada 2029, kebutuhan bensin nasional diperkirakan mencapai 40,8 juta kl. Impor bensin nasional diproyeksikan menjadi 25,3 juta kl dan produksi nasional ditargetkan capai 14,39 juta kl.

Rencana produksi bioetanol nasional juga ditargetkan meningkat menjadi 1,11 juta kl pada 2029.

Sementara itu, pada 2030, kebutuhan bensin nasional diperkirakan mencapai 42,1 juta kl. Impor bensin diprediksi sebesar 26,4 juta kl dan produksi nasional diramal mencapai 14,42 juta kl.

Nantinya, Kementerian ESDM merencanakan produksi bioetanol naik menjadi 1,28 juta kl untuk memenuhi kebutuhan E10.

(azr/wdh)

No more pages