Destry menyebut, suku bunga kredit eksisting memang sudah turun sekitar 40 basis poin. Namun untuk kredit baru, penurunannya lebih dalam, mencapai 75 basis poin. Namun, angka ini mulai mendekati penurunan BI-Rate yang sejak 2025 telah turun 125 basis poin.
"Jadi kami rasa ini menunjukkan juga bahwa transmisi dari kebijakan suku bunga itu sudah mulai berjalan. Tentunya ini juga didorong dengan kebijakan KLM yang kami gunakan dengan kita memfokuskan kepada interest channel," tuturnya.
Lebih jelasnya, saat ini, pemanfaatan KLM setara 4,83% dari Dana Pihak Ketiga (DPK), sementara batas maksimal insentif dari skema Giro Wajib Minimum (GWM) mencapai 5,5%. Artinya, masih ada ruang sekitar 0,7% yang bisa dimanfaatkan bank untuk memperoleh insentif tambahan.
BI pun mendorong perbankan menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas seperti sektor padat karya, hilirisasi, perumahan, serta mempercepat penurunan lending rate.
Destry menilai prospek ekonomi 2026 yang lebih baik dibanding 2025, kenaikan harga komoditas termasuk mineral, serta pertumbuhan penjualan korporasi akan mendorong permintaan kredit.
"Sementara sisi supply untuk perbankan yang mereka liquidity masih ample, ada undisbursed loan sekitar Rp2.500 triliun, yang tentunya ini menunggu waktunya untuk didisbursed pada saat ada permintaan muncul," pungkasnya.
Sebagai catatan saja, BI mengumumkan hasil Rapat Gubernur (RDG) periode Februari 2026, di mana bank sentral memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,5%.
(ell)



























