Logo Bloomberg Technoz

Di sisi lain, ia menyoroti tekanan yang juga datang dari sektor keuangan. Indonesia, ungkapnya, tengah menghadapi sentimen negatif setelah pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan penurunan penilaian kondisi ekonomi oleh Moody’s. 

Kedua lembaga tersebut menekankan meningkatnya kekhawatiran terhadap kelayakan investasi, kapasitas institusi, serta koherensi dan transparansi kebijakan. Kondisi tersebut, lanjutnya, memicu arus modal keluar dari pasar saham dan obligasi domestik. 

"Selain itu, penunjukkan keponakan Presiden [Thomas Djiwandono] sebagai deputi gubernur Bank Indonesia yang baru memperburuk tingkat kepercayaan investor seiring menguatnya sinyal tergerusnya independensi bank sentral," tuturnya. 

Dengan demikian, menurut Riefky, menahan BI Rate adalah pilihannya, sebab dengan pemangkasan suku bunga aka  berisiko memperparah arus modal keluar, sementara kenaikan suku bunga dapat menekan permintaan domestik, terutama ketika sejumlah daerah masih dalam tahap pemulihan pascabencana.

Hingga Akhir Kuartal

Kepala Ekonom BCA David Sumual memiliki pandangan, BI diperkirakan kembali mempertahankan suku bunga acuan pada bulan ini lantaran masih terjadinya net outflow asing di aset portofolio dalam negeri.

"Tetap proyeksinya. Masih terjadi net outflow asing di aset portofolio. Inflasi juga sedikit naik di Januari 2026," kata David saat dihubungi, Rabu (18/2/2026). 

Tak hanya itu, David juga memperkirakan, BI maupun The Fed masih akan menahan suku bunganya sepanjang kuartal I-2026.

BI Rate Ditahan Tetap 4,75%. (Diolah dari Berbagai Sumber)

Menurutnya, terdapat kemungkinan risiko dari dampak perlambatan ekonomi Amerika Serikat dan penurunan harga aset yang dapat mendorong penurunan suku bunga pada paruh kedua tahun ini.

Sementara itu, Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto juga sepakat BI masih mempertahankan suku bunga pada RDG Februari 2025 kali ini. 

Myrdal menilai, BI masih akan fokus menjaga stabilitas makroekonomi domestik, terutama dari sisi moneter. "Kita lihat kondisinya sekarang rupiah perlu langkah untuk stabilisasi nilai tukar, untuk menjaga cadangan devisa juga supaya tidak terkuras, selalu juga kondisi pasar keuangan kita juga perlu tetap dijaga daya tariknya."  

Apabila langkah-langkah tersebut telah dilakukan oleh BI, lebih lanjut ia menegaskan kondisi itu akan mendukung ruang bagi BI untuk ikut menopang pertumbuhan ekonomi nasional yang kondusif.

Di sisi lain, BI juga memiliki instrumen makroprudensial yang dapat mendorong penyaluran kredit ke sektor prioritas pembangunan dengan biaya lebih murah melalui penurunan maupun insentif giro wajib minimum bagi bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas.

"Dan juga BI punya instrumen juga untuk mendukung kelancaran perekonomian melalui sistem pembayaran yang sangat baik," ucap dia. 

Sekadar catatan, rupiah mencatatkan penyusutan dalam perdagangan spot Rabu (18/2/2026), sebanyak 0,07% menjadi Rp16.850/US$ kala pembukaan perdagangan. Tak berselang lama, rupiah tambah melemah 0,12% menjadi Rp16.860/US$. 

Di pasar offshore atau Non-Deliverable Forwards (NDF), rupiah yang tadi pagi sempat menguat kini berbalik melemah 0,01% dari Rp16.864/US$ menjadi Rp16.866/US$.

(dhf)

No more pages