Logo Bloomberg Technoz

Posisi ini turun dari ULN periode tahun 2024 yang sebesar US$56,62 miliar. Singapura agaknya tetap menjadi kreditur terbesar bagi ULN Indonesia. Pada 2019 ULN Indonesia terhadap Singapura tercatat paling tinggi sebesar US$69,36 miliar. 

2. Amerika Serikat 

Negari Paman Sam tercatat menjadi kreditur terbesar kedua bagi Indonesia. Sampai Desember 2025, total ULN Indonesia terhadap AS tercatat sebesar US$27,3 miliar, setara dengan Rp459,84 triliun menggunakan kurs yang sama. 

ULN Indonesia terhadap AS meningkat signifikan pada tahun 2018 dengan nilai US$21,04 miliar dari tahun sebelumnya US$12,63 miliar. Dan di masa pandemi, nilainya kembali naik menjadi US$29,91 miliar pada 2020, lalu menjadi US$31,9 miliar pada 2021, dan US$32,66 miliar pada 2022. Setelah itu, nilainya kembali susut mulai dari US$29,09 miliar pada 2023 hingga tahun 2025 menjadi US$27,03 miliar. 

3. China 

Negeri Tirai Bambu tercatat menyalip Jepang yang sebelumnya berada di posisi ketiga sebagai pemberi utang kepada Indonesia. ULN Indonesia terhadap China tercatat berada di posisi US$23,73 miliar, setara dengan Rp399,71 triliun. 

Lebih dari satu dekade lalu, pada 2013 ULN Indonesia terhadap China masih senilai US$6,15 miliar sementara ULN dari Jepang di tahun yang sama sebesar US$32,82 miliar. Angka pinjaman dari China kemudian melonjak pada 2015 menjadi US$13,66 miliar. Lalu pada 2021 melambung menjadi US$20,89 miliar, sementara di tahun yang sama ULN dari Jepang makin susut menjadi US$26,97 miliar. 

China mulai mengungguli Jepang dalam pemberian utang kepada Indonesia di tahun 2024. Saat itu, posisi ULN Indonesia terhadap Jepang susut ke posisi US$21,05 miliar (tahun sebelumnya US$23,17 miliar) sementara China naik menjadi US$23,16 miliar (tahun sebelumnya US$20,97). 

Hal ini terjadi lantaran ada pergeseran model kerja sama, serta adanya prioritas proyek infrastruktur dan industri yang terjadi pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.

China tercatat menyalip Jepang lantaran makin agresif menyalurkan pembiayaan melalui skema Belt and Road Initiative (BRI). Dalam hal ini, Indonesia menjadi salah satu penerima pendanaan proyek infrastruktur dan hilirisasi tersebut. 

Pendanaan dari China banyak mengalir ke proyek smelter dan hilirisasi mineral, pembangkit listrik, kawasan industri, hingga proyek kereta cepat. Sebagian besar pembiayaan ini tercatat sebagai ULN swasta maupun korporasi. 

4. Jepang

Tahun 2025 menjadi tahun kedua bagi Negeri Matahari Terbit ini menduduki posisi keempat sebagai pemberi utang bagi Indonesia. ULN Indonesia terhadap Jepang tercatat US$20,28 miliar, turun dari posisi 2024 senilai US$21,05 miliar. 

Nilai utang Indonesia terhadap Jepang di tahun ini menjadi posisi terendah dalam satu dekade terakhir. Padahal di tahun 2015 nilai utang Indonesia terhadap Jepang masih sebesar US$31,35 miliar. 

Jepang cenderung memberi pinjaman menggunakan skema Official Development Assistance (ODA) melalui Japan International Cooperation Agency, yang berfokus pada proyek MRT Jakarta, pelabuhan, bendungan, hingga proyek ketahanan bencana. Lantaran pemerintah Indonesia tak lagi ekspansif menarik ODA seperti dekade lalu, posisi utang dari Jepang menjadi cenderung turun seiring adanya pelunasan. 

Selain itu, utang bilateral antara Indonesia-Jepang menurun lantaran Jepang juga lebih berhati-hati dan selektif dalam memberi pinjaman.

Sementara di saat Indonesia makin aktif mendorong investasi langsung dan menggunakan skema project financing pada 2015, China menyambutnya dengan lebih fleksibel dalam struktur pembiayaan berbasis proyek. 

5. Hong Kong

Sama seperti China, Hong Kong pada satu dekade lalu masih menyalurkan sedikit pinjaman kepada Indonesia. Pada 2015 nilainya masih US$7,88 miliar. Namun, setahun kemudian pada 2016 nilainya melonjak jadi US$13,2 miliar, lalu pada 2024 makin melambung menjadi US$19 miliar. 

Sebagai negara financial hub, agaknya kenaikan pinjaman dari Hong Kong menjadi refleksi adanya tambahan pinjaman dari negara China daratan seperti tren yang terjadi sejak tahun 2015. 

ULN dari Hong Kong umumnya masuk kategori ULN swasta non-bank, serta pinjaman jangka panjang proyek. Dari data Bank Indonesia tercatat kenaikan ULN sektor swasta dalam beberapa periode terakhir untuk industir pengolahan, energi, dan infrastruktur non-pemerintah. 

6. Asia Lainnya 

Laporan ULN Bank Indonesia tidak merinci negara mana saja yang masuk dalam kategori Asia Lainnya. Pada akhir 2025 ULN Indonesia terhadap negara Asia Lainnya tercatat sebesar US$10,95 miliar. 

Pinjaman dari Asia Lainnya melonjak pada tahun 2018 menjadi US$10,88 miliar. Padahal, tiga sampai lima tahun sebelumnya masih berada di kisaran US$6,23 miliar hingga US$9,46 miliar. 

(dsp/aji)

No more pages