“Kemenangan BNP menandai dimulainya era hubungan politik bilateral yang lebih kompleks bagi India dengan Bangladesh,” ujar Rajiv Biswas, CEO Asia-Pacific Economics, sebuah firma riset risiko geopolitik dan ekonomi. Ia memperkirakan Bangladesh di bawah BNP akan memperdalam ikatan dengan China dan Pakistan—rival regional utama India lainnya—yang akan memaksa New Delhi untuk lebih aktif "mengelola" persaingan geopolitik di kawasan tersebut.
Perdana Menteri India Narendra Modi telah melakukan pendekatan kepada BNP dalam beberapa bulan terakhir sebagai upaya membangun kembali hubungan. Modi menjadi salah satu pemimpin asing pertama yang mengucapkan selamat kepada Rahman atas kemenangannya melalui media sosial, yang dilanjutkan dengan percakapan telepon pada Jumat lalu. Pada Desember lalu, Modi bahkan mengirim Menteri Luar Negeri India untuk menghadiri pemakaman ibu Rahman, mantan Perdana Menteri Khaleda Zia.
Dalam upacara pelantikan pada Selasa, India diwakili oleh Om Birla, Ketua Majelis Rendah Parlemen (Lok Sabha), yang membawa surat dari Modi berisi undangan bagi Rahman untuk berkunjung ke India. Selain Rahman, sebanyak 25 menteri dan 24 menteri negara juga turut dilantik dalam jajaran pemerintahan baru tersebut.
Taruhan Besar
Bagi India, stabilitas dan loyalitas Bangladesh memiliki nilai yang sangat tinggi. Kedua negara berbagi perbatasan sepanjang 4.000 kilometer yang membentang di wilayah timur India yang seringkali bergejolak. Perbatasan ini meliputi medan pegunungan dan sungai yang sulit dipantau, sehingga memungkinkan pergerakan lintas batas yang relatif mudah.
Prospek hubungan yang lebih erat antara Bangladesh dan China telah memicu kekhawatiran di New Delhi. Dalam laporan kepada parlemen pada Desember lalu, Kementerian Luar Negeri India menyatakan bahwa mereka terus memantau perluasan kehadiran China di Bangladesh, terutama dalam proyek infrastruktur strategis, pelabuhan, dan proyek terkait pertahanan.
“India memiliki kepentingan yang sangat jelas di Bangladesh,” kata Swaran Singh, profesor di School of International Studies, Universitas Jawaharlal Nehru, New Delhi. “India secara kebetulan juga memiliki neraca perdagangan yang sangat menguntungkan dengan Bangladesh, sehingga India ingin fokus terlebih dahulu pada kemitraan ekonomi.”
Hubungan ekonomi kedua negara memang meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Data Kementerian Perdagangan India menunjukkan perdagangan bilateral mencapai US$13,4 miliar pada periode 2024-25, melonjak dari US$7,07 miliar pada 2014-15. Angka ini menjadikan Bangladesh sebagai mitra dagang terbesar India di Asia Selatan. Ikatan ekonomi ini sangat krusial bagi Dhaka saat Rahman berupaya menarik keluar ekonomi Bangladesh dari kelesuan panjang yang ditandai oleh pertumbuhan lambat dan inflasi tinggi.
Dalam wawancara dengan Bloomberg News, AKM Wahiduzzaman, Sekretaris BNP bidang informasi, komunikasi, dan teknologi, menggambarkan hubungan Bangladesh-India sebagai hubungan yang "manis dan pahit." Ia menyebut masih ada rasa terima kasih atas dukungan New Delhi selama perang kemerdekaan 1971 dari Pakistan, namun menyebut dukungan India terhadap rezim Hasina sebagai "peristiwa malang yang ingin kami lupakan."
“Kami dikelilingi oleh India. Kami harus menghadapi realitas bahwa kami tidak bisa mengabaikan tetangga kami,” ujar Wahiduzzaman, seraya menambahkan bahwa kebijakan luar negeri BNP akan mengedepankan prinsip Bangladesh sebagai yang utama.
(bbn)
































