Sejumlah saham mencatat kenaikan luar biasa dan menjadi top gainers. Di antaranya adalah PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA) yang melejit 34,9%, PT Minna Padi Aset Manajemen Tbk (PADI) dan PT Triniti Dinamik Tbk (TRUE) melesat masing–masing 34,8% dan 29%, serta PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) bertambah 21,5%.
Sedang sejumlah saham yang melemah dan menjadi top losers di antaranya PT Surya Permata Andalan Tbk (NATO) yang amblas 10%, PT Prima Globalindo Logistik Tbk (PPGL) jatuh 10%, dan saham PT Indo Boga Sukses Tbk (IBOS) terpeleset 9,9%.
IHSG bergabung dengan Bursa Asia yang nyaman menetap di zona hijau, Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), TAIEX (Taiwan), KOSPI (Korea Selatan), KLCI (Malaysia), Straits Times (Singapura), PSEi (Filipina), Hang Seng (Hong Kong), SETI (Thailand), dan Shanghai Composite (China), yang berhasil menguat masing–masing 2,44%, 1,61%, 1%, 0,51%, 0,41%, 0,37%, 0,31%, 0,09%, dan 0,09%.
Bursa Saham Asia dan IHSG berhasil memanfaatkan momentum pasar setelah data penjualan ritel yang lesu memperteguh alasan bagi Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) untuk menurunkan suku bunga tahun ini.
Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun merosot ke level terendah dalam sebulan, seiring pelaku pasar mulai memperhitungkan peluang tiga kali pemangkasan suku bunga acuan sepanjang 2026.
Penjualan ritel AS secara mengejutkan stagnan pada Desember, mengindikasikan daya beli konsumen melemah di penghujung tahun. Saat ini, perhatian pasar tertuju sepenuhnya pada laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis malam nanti waktu Indonesia.
“Sepertinya momentum konsumsi di bulan–bulan jelang tutup tahun 2025 lebih lemah dari asumsi sebelumnya. Ini menjadi titik awal yang kurang menggembirakan bagi estimasi pertumbuhan tahun 2026,” terang Vail Hartman dari BMO Capital Markets, seperti dinukil dari Bloomberg News.
Pasar swap masih mengindikasikan para pembuat kebijakan akan mempertahankan suku bunga dalam pertemuan bulan depan, tetap di rentang 3,-3,75%. Namun, Mark Haefele dari UBS Global Wealth Management tetap optimistis.
“Kami memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga masing–masing sebesar 25 basis poin pada tahun ini. Pertumbuhan ekonomi yang solid, sebagian didorong oleh kenaikan produktivitas, tetap menyokong laba korporasi,” jelas Haefele.
(fad)





























