Pertumbuhan ini tidak lagi didominasi negara eks-Uni Soviet, melainkan datang dari negara yang lebih jauh seperti India, Bangladesh, Sri Lanka, dan China. Pekerja dari Asia Selatan kini mulai mengisi pekerjaan kota seperti pembersih salju, buruh konstruksi, hingga pelayan restoran.
“Kami melihat pergeseran tektonik yang nyata di pasar tenaga kerja Rusia,” ujar Elena Velyaeva, direktur operasional agen perekrutan Intrud yang berbasis di Moskow. Ia kini tengah mencari calon pekerja di Sri Lanka dan Myanmar untuk memperluas pencarian.
Saat AS di bawah Donald Trump dan beberapa negara Eropa mulai membatasi imigrasi, Rusia justru berjuang melawan krisis demografi sejak anjloknya angka kelahiran pada 1990-an. Sekitar seperempat populasi Rusia telah memasuki usia pensiun. Dengan tingkat pengangguran hanya sekitar 2%—salah satu yang terendah di dunia—ekonomi Rusia berisiko mandek jika tidak segera mendatangkan pekerja asing.
Menghadapi kekurangan tersebut, perusahaan-perusahaan Rusia kini lebih tertarik merekrut pekerja yang terikat kontrak dan visa kerja, ujar Velyaeva. Sebaliknya, migran dari kawasan bebas visa seperti Asia Tengah cenderung lebih sering berpindah pekerjaan.
Intrud bekerja sama dengan Asosiasi Tukang Las Rusia untuk mendirikan pusat pelatihan tukang las di Chennai, India selatan. Di sana, para kandidat dilatih dan dinilai sebelum direkrut untuk bekerja di Rusia, kata Velyaeva.
Agen lain juga menyelenggarakan kursus singkat bahasa Rusia bagi calon pekerja hotel dan posisi lain yang membutuhkan kemampuan bahasa. Untuk beberapa pekerjaan, seperti di sektor konstruksi, para pekerja biasanya berkomunikasi dengan manajer yang menguasai bahasa ibu mereka sekaligus bahasa Rusia, menurut seorang perekrut yang berkantor di Dubai, yang enggan disebutkan namanya karena tidak berwenang berbicara kepada media.
“Rusia kini menjadi negara terbaru dalam daftar yang mempekerjakan tenaga kerja India,” kata Amit Saxena, direktur Ambe International yang berbasis di Mumbai. “Saat ini Rusia kekurangan tenaga kerja. Jadi ini adalah kecocokan yang alami.”
Ambe International baru mulai merekrut pekerja India untuk Rusia sekitar tiga bulan lalu, awalnya hanya untuk wilayah Moskow. Kini, perusahaan tersebut juga terlibat dalam perekrutan tenaga kerja untuk Rusia Timur Jauh, termasuk Vladivostok dan Pulau Sakhalin.
Perang Putin di Ukraina semakin memperparah kekurangan tenaga kerja yang sudah serius. Selain mereka yang direkrut langsung ke medan perang, ekonomi perang telah menarik pekerja dari sektor sipil ke industri militer. Di saat yang sama, diperkirakan 500.000 hingga 800.000 warga Rusia usia produktif meninggalkan negara itu karena menentang perang, menghindari mobilisasi, atau alasan lainnya.
Rusia juga memperketat aturan migrasi bebas visa setelah serangan terhadap penonton konser di Crocus City Hall, pinggiran Moskow, pada 2024. Pada awal tahun ini, jumlah warga negara asing di Rusia tercatat turun menjadi 5,7 juta, sekitar 10% lebih rendah dibandingkan setahun sebelumnya, meskipun banyak di antaranya adalah anak-anak, lapor surat kabar Rusia, Vedomosti.
Dunia usaha pun merasakan dampaknya.
MMC Norilsk Nickel PJSC, perusahaan tambang terbesar di Rusia yang dikenal menawarkan upah tinggi, kekurangan sekitar 10.000 pekerja di Siberia setahun lalu—setara sekitar 10% dari total tenaga kerjanya. Hingga kini, perusahaan tersebut masih kekurangan beberapa ribu pekerja di wilayah itu.
“Kekurangan tenaga kerja terampil tetap menjadi salah satu tantangan utama bagi industri Rusia secara keseluruhan,” ujar juru bicara perusahaan tersebut melalui email.
Kondisi serupa dialami JSC Shipbuilding Corporation Ak Bars, yang membangun kapal sipil dan militer, yang kekurangan 1.500 hingga 2.000 pekerja. Kondisi ini menjadi salah satu alasan perusahaan hanya beroperasi sekitar setengah kapasitas, kata Direktur Utama Renat Mistakhov.
Merekrut tenaga kerja dari Asia juga kerap lebih murah bagi pengusaha. Seorang teknisi listrik terampil asal India, misalnya, dapat dibayar sekitar 25% lebih rendah dibandingkan tawaran untuk posisi serupa bagi pekerja Rusia, berdasarkan iklan lowongan kerja di platform Rusia dan Teluk.
Rusia juga berupaya memanfaatkan hubungan yang semakin erat dengan Korea Utara untuk menutup kekurangan tenaga kerja. Jumlah kedatangan warga Korea Utara ke Rusia meningkat sejak 2022, setelah sebelumnya menurun akibat larangan PBB pada 2017 terkait penggunaan tenaga kerja negara tersebut di luar negeri.
Banyak dari mereka masuk menggunakan visa pelajar—sekitar 9.000 orang pada 2024, tahun terakhir dengan data tersedia, menurut Kementerian Luar Negeri Rusia. Jumlah pekerja Korea Utara di lokasi konstruksi Rusia saja diperkirakan mencapai sekitar 50.000 orang hingga akhir 2025, menurut estimasi kelompok pengembang Eskadra yang dikutip RIA Novosti.
Peran tenaga kerja China berbeda. Sebagian besar warga China yang memperoleh visa kerja di Rusia bekerja di fasilitas produksi atau perusahaan milik mereka sendiri, kata Alexei Maslov, direktur Institut Studi Asia dan Afrika di Universitas Negeri Moskow Lomonosov. Mereka terutama aktif di usaha kecil dan menengah seperti restoran, logistik, dan perdagangan grosir.
Bagi Rusia, belum terlihat tanda-tanda situasi ini akan segera berubah.
“Populasi Rusia akan terus menua, dan proporsi kaum muda serta anak-anak akan terus menurun secara keseluruhan,” kata demografer independen Igor Efremov. “Ini bukan krisis pasar tenaga kerja yang bersifat sementara, melainkan norma jangka panjang yang akan bertahan selama beberapa dekade dan harus dihadapi oleh perekonomian.”
(bbn)





























