Selain faktor politik, badai salju hebat yang melanda wilayah utara Jepang pada hari Minggu ini dikhawatirkan akan menurunkan tingkat partisipasi pemilih. Badan Meteorologi Jepang telah mengeluarkan peringatan dini terkait gangguan lalu lintas dan gelombang tinggi. Hingga pukul 10 pagi waktu setempat, tingkat partisipasi pemilih baru mencapai 3,72%, jauh di bawah angka 6,33% pada pemilu 2024 di jam yang sama, menurut data Kementerian Dalam Negeri.
Masalah utama yang menghantui pemilih adalah lonjakan biaya hidup akibat inflasi konsisten pertama dalam satu generasi. Baik LDP maupun CRA sama-sama menjanjikan penghapusan pajak penjualan (PPN) untuk bahan makanan. Perbedaannya, LDP menawarkan langkah ini sebagai kebijakan sementara, sementara CRA menuntut kebijakan permanen.
Partai kecil lainnya seperti Partai Demokrat untuk Rakyat (DPP) ingin menaikkan pendapatan bersih pekerja, sementara partai sayap kanan Sanseito ingin memperketat aturan bagi warga asing dan menghapus pajak penjualan sepenuhnya dalam jangka panjang.
Para investor saat ini telah memposisikan diri untuk kemenangan telak LDP. Mereka memborong saham Jepang serta menjual yen dan obligasi pemerintah. Pasar berekspektasi Takaichi akan menggenjot belanja negara untuk mendukung ekonomi, sekaligus kemungkinan memperlambat laju kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Jepang atau Bank of Japan (BOJ). Nasib tren yang disebut sebagai "Takaichi trade" ini akan sangat bergantung pada hasil akhir nanti malam.
Meskipun gayanya sempat memicu kekhawatiran pasar, popularitas Takaichi di media sosial tetap sangat kuat. Video viralnya saat bermain drum bersama Presiden Korea Selatan dan momen akrabnya dengan PM Italia Giorgia Meloni sukses menarik simpati. Bahkan, pesanan tas tangan dan pulpen merah muda yang ia gunakan melonjak tajam.
Di kalangan pemilih muda (usia 18-29 tahun), dukungan untuk Takaichi mencapai hampir 90%. Angka ini jauh melampaui pendahulunya, Shigeru Ishiba dan Fumio Kishida yang masing-masing mencatat 38% dan 51% pada awal masa jabatan mereka. Sementara untuk kalangan usia 18-39 tahun, survei lembaga penyiaran publik NHK yang dilakukan tak lama setelah ia menjabat menunjukkan tingkat persetujuan sebesar 77%.
Kemenangan Takaichi kemungkinan akan diikuti kebijakan fiskal yang lebih proaktif, dengan fokus investasi di sektor-sektor seperti logam tanah jarang dan kecerdasan buatan, serta sikap yang lebih tegas dalam isu pertahanan dan kebijakan terhadap warga asing. Setelah janjinya untuk memberlakukan pemotongan pajak penjualan sementara sempat mengguncang pasar, ia kini membatasi penekanan pada rencana tersebut, tampaknya menyadari potensi dampaknya terhadap pasar jika terlalu menonjolkan kebijakan yang bisa memperberat beban utang Jepang.
Agenda stimulus yang diusung Takaichi juga berpotensi mempersulit langkah pengetatan kebijakan BOJ dan menekan nilai yen, sehingga menambah tekanan bagi keluarga dan perusahaan yang menghadapi inflasi tinggi akibat mahalnya biaya impor, terutama lonjakan harga pangan.
Jika berhasil meraih mandat yang diinginkannya, Takaichi juga diperkirakan akan mengambil sikap lebih berani di panggung internasional. Ia sebelumnya telah memicu kemarahan China melalui pernyataannya soal Taiwan. Keengganannya untuk mundur meski menghadapi tekanan ekonomi dan diplomatik dari Beijing dinilai mencerminkan ketegasan yang ingin ia bangun bagi Jepang.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut memberikan dukungan kepada Takaichi menjelang pemungutan suara, bahkan mengundangnya ke Gedung Putih pada 19 Maret. “Perdana Menteri Takaichi adalah sosok yang pantas mendapat pengakuan kuat atas pekerjaan yang ia dan koalisinya lakukan,” tulis Trump dalam unggahan media sosial pada Kamis.
Pemungutan suara dijadwalkan berakhir pukul 20.00 waktu setempat pada Minggu, dengan hasil exit poll diperkirakan akan dirilis segera setelahnya.
(bbn)



























