Logo Bloomberg Technoz

“Saya pikir kedua pihak bisa mencapai kerangka kesepakatan untuk perundingan selanjutnya jika proses ini terus berjalan dengan semangat yang sama,” kata Araghchi.

Kabar ini sempat memicu penurunan harga minyak dunia, di mana minyak mentah jenis Brent sempat jatuh ke bawah US$67 per barel sebelum kembali stabil. Sepanjang tahun ini, harga minyak telah melonjak sekitar 12% akibat kekhawatiran pecahnya perang baru di Timur Tengah.

Meski kedua pihak duduk bersama, terdapat perbedaan tajam pada materi bahasan. Iran bersikeras bahwa diskusi hanya terbatas pada isu nuklir. Sebaliknya, pejabat AS mendesak agar perundingan juga mencakup program rudal Iran dan dukungan Teheran terhadap kelompok milisi regional.

"Subjek pembicaraan kami sepenuhnya soal nuklir, dan kami tidak mendiskusikan masalah lain dengan pihak Amerika," tegas Araghchi dalam wawancara dengan televisi negara, IRIB.

Perundingan tersebut melibatkan Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi yang menggelar sejumlah pertemuan terpisah dengan delegasi Iran yang dipimpin Araghchi serta tim dari AS yang terdiri dari utusan khusus Steve Witkoff dan menantu Presiden Trump, Jared Kushner.

Menurut kantor berita resmi Islamic Republic News Agency (IRNA), prioritas utama Iran dalam perundingan ini adalah “menilai itikad baik dan keseriusan pihak lain”.

Araghchi juga menyampaikan rencana awal untuk “mengelola situasi saat ini” sekaligus memajukan negosiasi, demikian laporan IRNA.

Sejumlah operator kapal supertanker, yang khawatir dengan meningkatnya ketegangan AS-Iran serta potensi risiko terhadap pelayaran di Selat Hormuz, dilaporkan mempercepat laju kapal mereka saat melintasi jalur tersebut, menurut laporan Bloomberg.

Pada hari yang sama, Departemen Luar Negeri AS mengumumkan sanksi baru terhadap 15 entitas, dua individu, serta lebih dari belasan kapal bayangan yang disebut “shadow fleet” yang terlibat dalam pengiriman minyak Iran. Langkah ini menunjukkan Gedung Putih tetap menekan Iran meski perundingan sedang berlangsung.

“Alih-alih berinvestasi untuk kesejahteraan rakyatnya dan infrastruktur yang semakin rusak, rezim Iran terus mendanai aktivitas destabilisasi di seluruh dunia serta meningkatkan represi di dalam negeri,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott dalam pernyataan resminya. “Presiden berkomitmen untuk menekan ekspor minyak dan petrokimia ilegal rezim Iran melalui kampanye tekanan maksimum.”

Selat Hormuz. (Sumber: Bloomberg)

Iran pada Kamis kemarin menyita dua kapal tanker minyak kecil di Teluk Persia yang diduga menyelundupkan bahan bakar. Televisi negara melaporkan otoritas Iran menemukan sekitar 6.300 barel bahan bakar ilegal di dalamnya, tanpa menyebutkan identitas kapal-kapal tersebut. Operasi semacam ini sering dilakukan Iran untuk memerangi penyelundupan.

Trump telah mengancam Teheran dengan serangan militer jika tidak mencapai kesepakatan. Sebaliknya, Iran memperingatkan bahwa serangan apa pun akan memicu perang regional yang melibatkan Israel dan AS.

Pada Jumat, AS mendesak warganya yang berada di Iran untuk segera meninggalkan negara itu atau menimbun makanan dan air jika tidak memungkinkan untuk pergi. Belum jelas berapa banyak warga Amerika yang masih berada di Iran, namun jumlahnya diperkirakan kecil.

Tujuan Trump yang semula berfokus pada jaminan keselamatan para demonstran Iran yang menggelar aksi besar anti-pemerintah pada Desember dan Januari kini berkembang menjadi upaya mencapai kesepakatan yang lebih luas untuk membatasi program nuklir dan rudal balistik Teheran.

Banyak analis meragukan kedua negara dapat mencapai kesepakatan.

“Meski ada sejumlah kemajuan diplomatik, serangan AS terhadap Iran tetap berpeluang terjadi,” tulis analis Eurasia Group Gregory Brew dan Henning Gloystein dalam catatan kepada klien pada Kamis. “Preferensi Trump terhadap tindakan cepat dan tegas yang tidak berujung pada komitmen berkepanjangan berarti serangan AS kemungkinan bersifat intensif, tetapi tidak berlangsung lama.”

“Situasi ini terlihat lebih mendekati tahap akhir ketimbang sekadar siklus negosiasi rutin,” kata Chief Investment Officer Amtelon Capital Maciej Wojtal dalam catatan pada Jumat (6/2), seraya menambahkan bahwa AS kemungkinan menolak jadwal perundingan yang terbuka tanpa batas waktu.

“Opsi eskalasi mencakup serangan terarah terhadap infrastruktur rudal Garda Revolusi hingga pencegatan maritim terhadap pengiriman minyak Iran yang menuju China,” ujar Wojtal.

Sebagian besar program nuklir Iran mengalami kerusakan pada Juni lalu ketika Israel melancarkan serangan udara dan operasi pembunuhan di negara tersebut. AS, yang sebelumnya menggelar perundingan dengan Iran sebelum konflik pecah, kemudian ikut terlibat dengan menjatuhkan bom penghancur bunker ke sejumlah lokasi penting di Iran yang digunakan untuk memproduksi uranium yang diperkaya.

(bbn)

No more pages