Pertamina akan menyiapkan holding port yang memadai untuk kapal tanker pengangkut solar SPBU swasta berlabuh.
Kemudian, Pertamina juga harus memastikan kargo yang digunakan sesuai dengan standar.
Lalu, Laode menambahkan, Pertamina mesti memastikan kesesuaian volume pengiriman solar yang dipesan operator SPBU swasta.
“Karena pada saat April nanti sudah tidak ada lagi krisis-krisis yang terjadi, jadi sekarang kita mitigasi solar,” tegasnya.
Makin Andal
Lebih lanjut, Laode meyakini proses distribusi bahan bakar minyak (BBM) yang dilakukan Pertamina akan makin andal selepas merger tiga anak usaha Pertamina yang bergerak di sektor hilir migas.
Adapun, tiga perusahaan yang digabungkan menjadi subholding downstream di bawah Pertamina Patra Niaga yakni PT Pertamina Patra Niaga (PPN), PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan PT Pertamina International Shipping (PIS). Kini, Pertamina Patra Niaga menjadi subholding downstream Pertamina.
Laode menyebut, dengan model bisnis sebelumnya maka KPI dan PPN berpotensi kerap berbeda pendapat. Kini, kata dia, risiko tersebut sudah makin diminimalisir.
Selain itu, Laode meyakini biaya yang dikeluarkan Pertamina dapat makin efisien sebab tiga anak usahanya tersebut tak lagi masing-masing mencari keuntungan, namun digabungkan menjadi satu.
“Dengan penggabungan ini mereka jadi satu nih. Dan cost juga kan ada pengurangan yang tadinya masing-masing cari margin, sekarang sudah satu entitas, marginnya menyatu di situ,” ujar Laode.
(azr/naw)



























