Logo Bloomberg Technoz

Yuliot memastikan porsi DMO batu bara yang ditetapkan akan disesuaikan dengan kebutuhan industri dalam negeri.

“Dari sisi presentasi DMO pasti naik. Jadi, kan kalau kemarin itu kan DMO itu sekitar 23%—24%. Dengan adanya penurunan produksi, presentasi DMO pasti akan jadi peningkatan,” ujarnya.

Dalam kesempatan terpisah kemarin, Dirjen Minerba Kementerian ESDM Tri Winarno menegaskan pemerintah bakal memangkas target produksi batu bara para penambang dalam RKAB 2026 secara proporsional.

Salah satu aspek yang dipertimbangkan, kata Tri, yakni seberapa besar setoran PNBP ke negara yang dikontribusikan perusahaan batu bara tersebut.

“Namun, otomatis kita proporsional artinya yang PNBP-nya gede, yang kontribusinya gede itu otomatis pemotongannya enggak begitu [besar],” kata Tri ketika ditemui di Menara Bank Mega, Kamis (5/2/2026).

Lebih lanjut, dia mengungkapkan Ditjen Minerba bakal memangkas target produksi batu bara RI pada 2026 sekitar setengah dari persetujuan RKAB 2025 sebesar 1,2 miliar ton.

Dia menjelaskan, target produksi batu bara yang bakal disetujui pada tahun ini akan berada di sekitar 600 juta ton, atau sekitar setengah dari target produksi yang disetujui tahun lalu.

“Untuk periode-periode sebelumnya, misalnya 2025, sebetulnya persetujuan RKAB kita 1,2 miliar [ton]. Produksi kita [sekitar] 800 [juta ton] lah. Jadi poinnya kita ingin negara hadir, sebetulnya enggak lah kalau untuk tujuannya jelek lah. Enggak akan lah sebetulnya,” 

“Kalau misalnya tahun ini sama kan [target produksi 600 juta ton] berarti [dari] 1,2 [juta ton] kan mesti di-cut,” tegas Tri.

Tri meyakini langkah pemangkasan produksi batu bara tersebut dapat membuat laju produksi batu bara dari Indonesia lebih terkontrol sehingga harga batu bara di pasar global.

Belum Diterbitkan

Tri juga menegaskan Ditjen Minerba Kementerian ESDM belum menerbitkan persetujuan RKAB batu bara periode 2026, sehingga data persetujuan produksi yang beredar di media sosial dipastikan hoaks.

“Saya juga dapat [tabel berisi data rumor persetujuan produksi batu bara sejumlah perusahaan]. Akan tetapi, poinnya adalah yang di Kementerian ESDM sampai saat ini belum mengeluarkan persetujuan RKAB untuk 2026,” tegasnya.

Kalimantan Floating Transfer Barges dimiliki dan dioperasikan oleh Bayan Group. (Dok. PT Bayan Resources)

Sebelumnya, Menteri ESDM  Bahlil Lahadalia mengungkapkan target produksi batu bara dalam RKAB 2026 akan dipangkas menjadi sekitar 600 juta ton, lebih rendah dari target tahun lalu sebanyak 735 juta ton.

Bahlil menegaskan belum menetapkan angka target produksi batu bara pada tahun ini, tetapi dia menyatakan dalam RKAB 2026 target produksi akan berada di sekitar 600 juta ton.

“Urusan RKAB, Pak Dirjen Minerba lagi menghitung. [Hal] yang jelas di sekitar 600 juta. Kurang lebih. Bisa kurang, bisa lebih dikit,” kata Bahlil dalam Konferensi Pers Kinerja Kementerian ESDM, Kamis (8/1/2026).

Bahlil berharap pemangkasan produksi yang akan dilakukan Indonesia dapat mengerek harga batu bara ke depannya.

Adapun, realisasi produksi batu bara nasional sepanjang 2025 mencapai 790 juta ton. Besaran itu, anjlok 5,5% dari capaian sepanjang 2024 sebesar 836 juta ton.

Kendati demikian, produksi batu bara sepanjang 2025 lebih tinggi dari target yang dipatok tahun ini sebesar 739,6 juta ton.

Bahlil menerangkan sebagian besar produksi itu disalurkan untuk pasar ekspor, sekitar 514 juta ton atau 65,1% dari total produksi.

Sementara itu, realisasi penyaluran batu bara untuk DMO mencapai 254 juta ton atau 32%.

Adapun, stok batu bara yang dicadangkan sampai akhir 2025 sebesar 22 juta ton atau 2,8% dari keseluruhan produksi tambang.

(azr/wdh)

No more pages