“Jadi yang tadi dilihat, untuk E-5 kita akan naikkan 10 juta rupiah. Untuk E-5 ya. Bervariasi, beda-beda.” sebut Budi.
Makanya, Chery sedang mencari cara untuk tetap dapat bersaing di tengah aturan ketat mengenai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Pasalnya, mobil listrik dengan TKDN tinggi tetap akan memperoleh insentif.
“Tentunya pasti [Akan meninggikan TKDN]. Karena kan kita CKD [Completely Knocked Down] di Indonesia, kita mengharapkan kontribusi yang juga dengan lokalisasi semakin tinggi.” kata Budi.
Meski begitu, Budi masing enggan berbicara lebih jauh terkait dengan rencana perluasan pabrik Chery di Indonesia
Harga BYD Belum Naik
Meski Harga mobil listrik Chery sudah naik, pesaing utama mereka yakni Build Your Dreams alias (BYD) belum terlihat akan menaikkan EVnya. Mobil terlaris mereka yakni Atto1 Dynamic masih dibanderol dengan harga Rp199 Juta.
Menurut BYD, hal ini karena pemerintah belum mengumumkan secara resmi ihwal kelanjutan insentif mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV). Pasalnya, penghapusan insentif dapat berpotensi penundaan pembelian EV oleh konsumen.
“Jadi kami belum bisa banyak ngomong apa-apa. Tapi ya kami harapkan memang kejelasan itu secepat mungkin penting, supaya mungkin customer bisa melakukan action ya, membeli sekarang, sesegera mungkin, atau ya mungkin punya pertimbangan lain,” kata Head of Marketing, PR & Government BYD Indonesia Luther T. Panjaitan ditemui di International Motor Show (IIMS) 2026, dikutip Jumat (6/2/2026).
Dalam kaitan itu, Luther menuturkan hingga kini tren penjualan BYD pada Januari 2026 belum menunjukan kondisi tersebut lantaran beberapa administrasi kendaraan belum penyelesaian pembukuan registrasi kendaraan.
Dalam perencanaan jangka panjang, Luther mengatakan BYD Indonesia memiliki strategi produk dan harga di banyak komponen. Semetara insentif hanya satu bagian dari pembentuk harga tersebut. Artinya, BYD menyambut baik ketika pemerintah mengucurkan insentif tersebut, namun bila tidak diberikan BYD cukup optimistis dengan produk EV yang ada saat ini.
Pemerintah sebenarnya sudah mencabut subsidi mobil listrik impor. Hal ini didasari oleh Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2023 tentang Perubahan atas Perpres Nomor 55 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai untuk Transportasi Jalan.
Dalam perpres tersebut, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mobil listrik wajib mencapai 40% pada 2022-2026. Lalu naik menjadi 60% pada 2027-2029 dan 80% mulai 2030.
Insentif berupa pembebasan bea masuk dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang sudah diterima, akan diberhentikan. Selanjutnya, di 1 Januari 2026 hingga 31 Desember 2027 para produsen wajib memproduksi mobil listrik di Indonesia dengan jumlah setara kuota impor CBU.
Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP), Tunggul Wicaksono tahun lalu.
"Yang dilakukan melalui CKD (Completely Knocked Down) sampai dengan 2026, dan pada 2027 dilakukan melalui IKD (Incompletely Knocked Down). Karena kalau masih tetap CKD, nggak akan tercapai angka 60%. Kemudian angka 80% dicapai melalui skema manufaktur part by part [bagian per bagian]," katanya.
Ia mengungkap, terdapat enam perusahaan yang mengikuti program insentif CBU, akan melakukan penambahan total investasi sebesar Rp15 triliun serta rencana penambahan kapasitas produksi sebesar 305 ribu unit.
Enam produsen mobil listrik disebut sudah mengikuti program tersebut. Keenam produsen itu adalah BYD Auto Indonesia (BYD), Vinfast Automobile Indonesia (Vinfast), Geely Motor Indonesia (Geely), Era Industri Otomotif (Xpeng), National Assemblers (Aion, Citroen, Maxus dan VW) serta Inchape Indomobil Energi Baru (GWM Ora).
"Dalam perjalanannya, perusahaan juga harus memperhatikan nilai, besaran nilai TKDN. Dari 40% harus secara bertahap naik menjadi 60% besaran nilai TKDN," kata Tunggul.
Tunggul mengakui, program percepatan pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia membuat populasi kendaraan jenis ini meningkat.
"Pada tahun 2024, total populasi kendaraan listrik mencapai 207 ribu unit, meningkat sebesar 78% dari tahun 2023 yang berjumlah 116 ribu unit," sebutnya.
Pangsa pasar kendaraan berbasis listrik, khususnya hybrid electric vehicle (HEV) dan BEV, kata dia, meningkat secara signifikan. Perinciannya, pangsa pasar HEV naik dari 0,28% pada 2021 menjadi 7,62% pada Juli 2025, sedangkan BEV melonjak dari 0,08% menjadi 9,7% pada periode yang sama.
(ain)






























