Shinta juga menambahkan, kondisi global yang belum sepenuhnya stabil juga memberi pengaruh signifikan terhadap dunia usaha di Indonesia. Volatilitas nilai tukar rupiah dan meningkatnya biaya berusaha (cost of doing business) menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku industri.
"Karena kan industri kita kebanyakan kan bahan-bahannya masih impor. Jadi mereka itu juga harus jadi perhatian," tegasnya.
Berdasarkan data PHK yang dirilis Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) untuk periode Januari-Desember 2025, jumlah korban PHK pada 2025 tembus 88.519 orang dibanding 2024 di angka 77.965 orang. Artinya ada peningkatan jumlah PHK sebanyak 10.554 orang.
Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (PHI Jamsos) Kemnaker Indah Anggoro Putri mengatakan tingginya angka PHK 2025 terjadi lantaran tensi geopolitik pada awal 2025 hingga akhir semester I-2025 cukup tinggi sehingga berpengaruh terhadap industri di Tanah Air.
(ell)





























