Jadi bursa saham Asia menjadi ‘lautan merah’, tetapi IHSG menjadi yang paling parah.
Kejatuhan bursa saham Benua Kuning disebabkan oleh penguatan dolar AS. Pada pukul 15:42 WIB, Dollar Index (yang mengukur posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) menguat 0,15% ke 97,135. Ini menjadi posisi terkuat dalam lebih dari sepekan terakhir.
Penguatan dolar AS ditopang oleh nominasi Kevin Warsh sebagai calon Gubernur Federal Reserve, yang akan menggantikan Jerome ‘Jay’ Powell. Warsh dikenal sebagai sosok yang getol memerangi inflasi.
Jika benar demikian, maka prospek penurunan suku bunga acuan di Negeri Paman Sam menjadi samar-samar. Ini yang membuat dolar AS perkasa.
“Pasar memperkirakan penurunan suku bunga akan moderat saja. Siklus pelonggaran moneter yang agresif sepertinya sulit terjadi,” kata Jason Pride dari Glenmede, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Fokus pasar yang tertuju kepada dolar AS membuat aset-aset berisiko di Asia menjadi kurang peminat. Akibatnya, IHSG dan indeks saham utama Asia harus berkubang di jalur merah.
Selain itu, koreksi harga komoditas juga menjadi sentimen negatif bagi IHSG. Hari ini, harga sejumlah komoditas utama berjatuhan.
Pada pukul 15:33 WIB, harga minyak jenis brent anjlok 4,2% ke US$ 66,38/barel. Sementara harga emas ambruk 5,19% menjadi US$ 4.633,7/troy ons.
“Aksi jual massal (sell off) di pasar komoditas mungkin membuat regulator untuk menerapkan reformasi secara defensif. Tujuannya adalah menjaga stabilitas jangka pendek. Ini bisa memperlambat momentum reformasi di Indonesia dan mempengaruhi minat investasi (investability) dalam jangka yang lebih panjang,” papar Gary Tan, Fund Manager di Allspring Global Investments, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Faktor Domestik
Namun ada sentimen domestik yang juga menjadi pemberat laju IHSG. Pembekuan indeks MSCI berbuntut panjang, berbagai institusi ikut menurunkan predikat pasar saham Indonesia.
Setelah Goldman Sachs dan UBS, kini giliran Nomura yang menurunkan saham Indonesia dari overweight menjadi netral. Nomura menggarisbawahi risiko investability dan ancaman arus keluar modal dari pemodal pasif.
“Peringatan dari MSCI mengenai risiko penurunan peringkat menjadi Frontier Market mengejutkan kami, dan juga pasar,” ungkap Strategist Nomura Chetan Seth, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Meski demikian, Nomura tetap pada posisi (stance) positif terhadap pasar keuangan Indonesia. Ini didasarkan atas valuasi yang masih relatif atraktif, stabilisasi ekonomi, laporan keuangan korporasi, serta ekspektasi yang rendah.
“Pasar saham dan mata uang menciptakan potensi profil risk-reward yang atraktif bagi investor yang sabar,” lanjut Seth.
(aji)




























