Dalam kondisi pasar yang bergerak sangat cepat dan penuh sentimen, trading halt berfungsi sebagai pilar pengaman. Investor diberi waktu untuk memahami situasi dan menganalisis informasi yang beredar.
Langkah ini membantu mengurangi keputusan impulsif yang sering muncul akibat emosi fear dan greed. Dengan demikian, pasar diharapkan kembali bergerak lebih rasional setelah perdagangan dibuka.
Faktor Penyebab Trading Halt
Trading halt tidak terjadi tanpa alasan. Ada sejumlah faktor utama yang dapat memicu kebijakan ini diberlakukan oleh BEI.
1. Pengumuman Informasi Material
Informasi penting dari emiten sering menjadi pemicu utama trading halt. Beberapa contoh informasi material meliputi merger dan akuisisi, laporan keuangan yang jauh dari ekspektasi, hingga temuan fraud.
Selain itu, rumor takeover, pengunduran diri direksi, serta perubahan manajemen yang signifikan juga dapat menyebabkan pergerakan harga ekstrem. Dalam situasi tersebut, BEI biasanya menghentikan perdagangan hingga ada klarifikasi resmi.
2. Volatilitas Harga yang Ekstrem
Pergerakan harga saham yang terlalu cepat, baik naik maupun turun, dapat memicu penghentian otomatis oleh sistem bursa. Tujuannya untuk mencegah kepanikan massal di kalangan investor.
Volatilitas ekstrem dinilai berisiko karena dapat memicu aksi jual atau beli yang tidak rasional dalam waktu singkat.
3. Sanksi dan Penyelidikan
Trading halt juga dapat terjadi ketika terdapat indikasi pelanggaran hukum, kasus korporasi besar, atau dugaan manipulasi pasar. Dalam kondisi ini, BEI menunda perdagangan sampai proses investigasi atau sanksi selesai.
Langkah tersebut diambil demi menjaga kepercayaan investor terhadap pasar modal.
4. Gangguan Teknis dan Operasional
Masalah teknis seperti gangguan sistem perdagangan, data harga yang tidak sinkron, serangan siber, atau kerusakan server utama juga dapat memicu trading halt.
Perdagangan akan dihentikan sementara sampai seluruh sistem kembali berfungsi normal dan aman.
5. Ketegangan Geopolitik dan Krisis Ekonomi
Faktor eksternal seperti perang dagang, konflik militer, atau krisis ekonomi global dapat memengaruhi pasar secara sistemik. Investor global cenderung menarik dana dari pasar berkembang dalam kondisi tersebut.
Aksi capital flight sering berdampak pada penurunan tajam IHSG dan memicu kebijakan trading halt.
6. Penurunan Indeks yang Signifikan
Ketika sentimen negatif mendominasi, aksi jual massal tidak terhindarkan. Jika IHSG turun drastis dalam waktu singkat, BEI akan memberlakukan trading halt.
Contoh nyata terjadi pada Maret 2020 saat pandemi Covid-19 mulai merebak. IHSG sempat turun lebih dari 8 persen dalam sehari dan trading halt terjadi beberapa kali dalam sepekan.
Mekanisme Kerja Trading Halt di BEI
Trading halt bukan keputusan spontan. Kebijakan ini diambil berdasarkan perhitungan matematis, ambang batas tertentu, dan prosedur sistematis yang telah ditetapkan.
BEI menerapkan skema bertingkat dalam pelaksanaan trading halt.
Tahapan Penghentian Perdagangan
• Trading halt selama 30 menit jika IHSG turun lebih dari 5 persen.
• Trading halt tambahan 30 menit apabila setelah dibuka kembali IHSG turun lebih dari 10 persen.
• Trading suspend jika IHSG turun lebih dari 15 persen, baik hingga akhir sesi atau lebih dari satu hari, dengan persetujuan OJK.
Selain itu, BEI juga menerapkan Auto Rejection Bawah dengan batas 15 persen untuk seluruh papan perdagangan.
Jika harga saham individual turun hingga batas tersebut, sistem akan menolak transaksi secara otomatis dan perdagangan saham dihentikan sementara.
Saluran Pengumuman Resmi
Situasi trading halt diumumkan melalui berbagai kanal resmi. Informasi disampaikan lewat sistem perdagangan sekuritas, situs dan media sosial BEI, serta media massa yang memiliki akses data bursa real-time.
Pengumuman ini bertujuan agar investor memperoleh informasi yang sama dan menghindari potensi kerugian.
Dampak Trading Halt bagi Investor
Trading halt membawa dampak ganda bagi pasar. Dari sisi positif, kebijakan ini efektif meredam panic selling yang berlebihan.
Trading halt berperan sebagai cooling period, memberi waktu bagi investor untuk berpikir jernih sebelum mengambil keputusan.
Namun, dari sisi negatif, likuiditas pasar dapat menghilang secara mendadak. Investor tidak dapat melakukan take profit maupun cut loss sampai perdagangan dibuka kembali.
Situasi ini kerap menimbulkan kecemasan dan ketidakpastian. Fenomena tersebut dikenal dengan istilah halt anxiety, yang dapat memengaruhi keputusan investasi dalam jangka panjang.
Trading Halt dan Circuit Breaker
Trading halt sering disamakan dengan circuit breaker, padahal keduanya memiliki perbedaan mendasar.
Trading halt biasanya dipicu oleh volatilitas saham tertentu atau adanya informasi material. Cakupannya bisa terbatas pada saham atau sebagian pasar.
Sementara itu, circuit breaker diberlakukan ketika indeks pasar turun tajam dan berdampak pada seluruh perdagangan saham. Durasi circuit breaker umumnya lebih singkat atau dapat berujung pada penutupan penuh.
Dengan memahami mekanisme trading halt dan opsi yang tersedia, investor diharapkan lebih siap menghadapi volatilitas pasar dan tetap menerapkan manajemen risiko yang disiplin.
(seo)




























