Logo Bloomberg Technoz

Sebelumnya, Gilarsi menjabat CEO di Adyawinsa Autobody pada 2012—2015. Dia juga sempat menjabat CEO di Shafira Corporation antara 2008—2012.

Di sektor investasi, dia sempat menjabat Managing Director Psi Technologies Inc. dan Merril Lynch Investment pada 2006—2008.

Selain itu, dia menjabat beberapa posisi kunci di Philips, termasuk Direktur Restrukturisasi Bisnis Philips Lighting Luminaires Asean dan Pasifik periode 2002—2004.

Jejak karir Gilarsi di grup Bakrie dimulai pada 1991—1994. Saat itu, dia menjabat sebagai senior manager di perusahaan holding bisnis Keluarga Bakrie, PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR).

Mengutip dokumen Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (AHU) Kementerian Hukum, posisi direksi Perminas lainnya diisi oleh La Ode Tarfin Jaya, Oktaria Masniari Manurung, dan Hartian Surya Widhanto. 

Sementara itu, jabatan komisaris utama Perminas diisi oleh Rauf Purnama. Sebelumnya, Rauf sempat menjabat sebagai Komisaris Utama PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).

Posisi komisaris lainnya diisi oleh Dadang Arif Abdurahman dan Ridho K. Wattineman. Adapun, Noor Mustaqim dan Anton Pripambudi masing-masing mengisi posisi komisaris independen.

Perminas bakal masuk pada sektor pertambangan pasir besi, bijih besi, bijih uranium dan torium, bijih timah, bijih timah hitam, bijih bauksit, bijih tembaga, bijih nikel, bijih mangan, emas dan perak, belerang, fosfat, nitrat, yodium, potash hingga pasir kuarsa. 

Selain itu, Perminas juga bakal memperluas jangkauan bisnis pada industri pembuatan logam dasar bukan besi, industri penggilingan logam bukan besi, industri ekstrusi logam bukan besi dan industri barang dari logam mulia.

Sektor lain yang juga bakal dijajaki Perminas berkaitan dengan klasifikasi usaha pengumpulan limbah berbahaya, treatment dan pembuangan limbah hingga pemulihan material barang logam. 

Modal dasar Perminas mencapai Rp44 miliar yang terdiri dari satu lembar saham seri A senilai Rp1 juta dan 43.999 lembar saham seri B dengan total Rp43,9 miliar. 

BPI Danantara lewat PT Danantara Asset Management memegang 10.999 lembar saham seri B dengan nilai Rp10,99 miliar. Sementara itu, saham Seri A dipegang langsung Pemerintah Republik Indonesia dengan nilai Rp1 juta. 

Dengan demikian, modal disetor pada kendaraan baru BPI Danantara pada industri mineral logam itu sebanyak Rp11 miliar.

(naw/wdh)

No more pages