Logo Bloomberg Technoz

Selain transparansi, Budi juga meminta industri farmasi agar fokus memproduksi obat-obatan dan alat kesehatan yang paling banyak dibutuhkan masyarakat Indonesia. 

Menurutnya, prioritas investasi harus diarahkan pada kebutuhan dasar sebelum masuk ke produk-produk kesehatan yang terlalu canggih.

“Fokusnya memang harus masuk ke obat-obatan, alat kesehatan, layanan kesehatan yang paling banyak dibutuhkan rakyat Indonesia,” tegasnya.

Menkes mengungkapkan pemerintah telah memiliki data mengenai 20 obat dan 20 alat kesehatan yang paling banyak dikonsumsi, baik dari sisi volume maupun nilai rupiah. Data serupa juga tersedia untuk layanan kesehatan yang paling banyak digunakan rumah sakit.

“Saya ada datanya tuh, 20 obat yang paling banyak dikonsumsi dari volume dan dari rupiah. 20 alkes yang paling banyak dikonsumsi dari volume dan dari rupiah,” jelasnya.

Ia menambahkan, berdasarkan data BPJS Kesehatan, penyakit jantung menjadi layanan dengan klaim tertinggi, disusul kanker dan stroke. Karena itu, pengembangan obat dan alkes yang berkaitan dengan penyakit-penyakit tersebut harus menjadi prioritas utama.

“BPJS bisa dilihat, jantung nomor 1, kanker nomor 2, stroke. Jadi semua yang related dengan jantung stroke cancer itu harusnya menjadi our first priority to invest,” kata Budi.

Dalam kesempatan itu, Menkes juga mendorong agar lebih banyak obat diproduksi di dalam negeri sehingga Indonesia tidak terus bergantung pada impor. Langkah ini dinilai dapat mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus membuka lapangan kerja.

“Jangan hanya semuanya import, sehingga bisa support ini ya Bapak Presiden, 8% growth dan juga creating jobs,” ujarnya.

Selain itu, Budi mengingatkan Indonesia perlu mengambil lompatan besar dalam pengembangan industri obat, tidak hanya mengikuti tren negara lain. Ia menyebut saat ini banyak inovasi obat baru yang mulai bergeser dari berbasis kimia menuju biologics.

“Kita lakukan deep frog lah. Karena sekarang banyak obat-obatan baru yang tidak berbasis kimia, tetapi berbasis biologics,” pungkasnya.

(dec)

No more pages