Logo Bloomberg Technoz

“Kita tidak tahu requirement dia apa. Ini yang kita bisa serahkan satu per satu dalam waktu sejak kita ketemu,” ujarnya.

Iman menegaskan, diskusi dengan MSCI tidak berhenti pada pengumuman pembekuan bobot saham Indonesia. BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) terus mempersiapkan data yang dinilai relevan dengan metodologi MSCI, terutama data yang bersumber dari KSEI.

“Diskusi itu kita terus lakukan, artinya tidak berhenti minggu lalu. Sehingga apa yang mungkin menjadi requirement dari metodologi MSCI, insya Allah bisa dipenuhi dengan data yang ada di KSEI,” katanya.

Menurut Iman, tantangan utama berada pada batas waktu evaluasi lanjutan yang ditetapkan MSCI. Jika hingga periode tersebut transparansi data dinilai belum sesuai, maka hal itu berpotensi menjadi isu bagi pasar modal Indonesia.

Challenge kita adalah di bulan Juni apabila keterbukaan atau transparansi data yang dibutuhkan MSCI itu tidak sesuai dengan keinginan yang kita sampaikan di website,” ujarnya.

Terkait langkah ke depan, Iman menyebut BEI telah meminta waktu kepada MSCI untuk kembali berdiskusi. MSCI, kata dia, membuka ruang untuk pertemuan lanjutan guna menjelaskan secara lebih spesifik aspek apa yang dinilai masih kurang.

“Kita sudah minta waktu untuk diskusi. Mereka membuka diri untuk kasih kesempatan disclosure, apa yang mereka rasa, yang mereka bilang minim seperti apa,” jelasnya.

Di sisi lain, BEI juga melakukan komunikasi intensif dengan pelaku pasar, khususnya investor asing, menyusul pengumuman pembekuan bobot saham Indonesia di indeks MSCI. Edukasi dilakukan melalui pertemuan langsung dan berbagai agenda yang melibatkan manajemen BEI.

“Beberapa pelaku pasar menghubungi kita on behalf oleh investornya. Investor-investor asing lewat beberapa direksi sekarang kita edukasi untuk menjelaskan apa yang terjadi hari ini,” kata Iman.

Sebagai latar belakang, MSCI sebelumnya mengumumkan pembekuan seluruh kenaikan bobot saham Indonesia setelah menyelesaikan konsultasi global terkait penilaian free float dan investability pasar saham domestik. 

Dalam ringkasan sikapnya, MSCI menyebut mayoritas investor global masih memiliki kekhawatiran terhadap keandalan klasifikasi pemegang saham dan transparansi struktur kepemilikan.

Atas dasar tersebut, MSCI menerapkan interim freeze terhadap seluruh perubahan indeks saham Indonesia, termasuk pembekuan Foreign Inclusion Factor (FIF), penambahan saham baru, serta perpindahan segmen ukuran saham. MSCI menyatakan akan terus memantau perkembangan hingga Mei 2026 sebelum mengambil keputusan lanjutan.

(ell)

No more pages