Logo Bloomberg Technoz

IHSG Anjlok Tajam Jadi Momentum Benahi Pasar Saham


Trading Halt dibuka, IHSG makin jeblok, merosot 8,76% (Diolah)
Trading Halt dibuka, IHSG makin jeblok, merosot 8,76% (Diolah)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penurunan tajam lebih dari 8 persen pada perdagangan terbaru hingga memicu diberlakukannya mekanisme trading halt oleh Bursa Efek Indonesia. Koreksi mendalam ini terjadi di tengah meningkatnya volatilitas pasar global serta sikap kehati-hatian investor terhadap pasar saham Indonesia, terutama setelah mencuatnya sejumlah pernyataan dari MSCI yang menjadi perhatian pelaku pasar.

Tekanan jual meluas di hampir seluruh sektor, mencerminkan sentimen risk off yang kuat di kalangan investor. Kondisi tersebut membuat pergerakan IHSG bergerak ekstrem dalam waktu singkat, sehingga otoritas bursa mengambil langkah penghentian sementara perdagangan guna menjaga stabilitas pasar dan menghindari kepanikan berlebihan.

Ekonom Fakhrul Fulvian menilai koreksi tajam yang terjadi tidak semata harus dipandang sebagai sinyal negatif. Menurutnya, situasi ini justru dapat menjadi momentum penting bagi seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan pembenahan menyeluruh terhadap struktur pasar saham Indonesia agar lebih sehat, transparan, dan berdaya saing.

“Beberapa catatan dari MSCI belakangan, terutama terkait transparansi pasar saham Indonesia ini perlu dilihat secara konstruktif. Koreksi pasar saat ini seharusnya menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan perbaikan struktur pasar saham Indonesia secara lebih serius,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa ke depan, penguatan tata kelola atau good governance di pasar saham menjadi hal yang tidak bisa ditawar. Dengan tata kelola yang baik, harga saham akan lebih mencerminkan fundamental emiten yang sebenarnya, sekaligus menciptakan kondisi win win bagi seluruh pelaku pasar.

“Kedepan kita harus memberikan good governance di pasar saham, sehingga harga saham bisa mencerminkan fundamental yang ada, dan kondisi win win untuk seluruh pelaku pasar harus diutamakan. Kondisi yang baik bisa meningkatkan posisi kita dalam emerging market, jangan sampai dikarenakan governance yang kurang rapi, kita diturunkan ke status frontier market,” ujar Fakhrul.

Menurutnya, risiko penurunan status pasar dari emerging market ke frontier market bukan sekadar isu reputasi, melainkan dapat berdampak langsung pada aliran modal asing, persepsi investor global, serta biaya pendanaan jangka panjang bagi emiten domestik. Oleh karena itu, momentum koreksi ini perlu dimanfaatkan untuk memperkuat fondasi pasar.

Tata Kelola dan Kepercayaan Investor

Fakhrul menegaskan bahwa pasar saham yang sehat tidak hanya diukur dari kinerja indeks semata. Lebih dari itu, kualitas tata kelola, transparansi, dan tingkat kepercayaan investor menjadi pilar utama yang menentukan keberlanjutan pasar modal dalam jangka panjang.

“Pasar saham yang baik adalah pasar yang transparan, kredibel, dan memberikan perlindungan yang kuat bagi investor, khususnya investor minoritas. Kepercayaan jangka panjang dibangun dari governance yang baik, keterbukaan informasi, serta perlakuan yang adil bagi seluruh pelaku pasar,” jelas Fakhrul.

Ia juga menyoroti pentingnya prinsip fairness di pasar saham Indonesia. Menurutnya, seluruh investor, baik lokal maupun asing, harus merasakan adanya perlakuan yang setara dalam akses informasi, mekanisme perdagangan, hingga perlindungan hukum.

“Semua investor, baik local ataupun asing harus merasakan fairness dalam pasar saham,” tambahnya.

Dalam konteks volatilitas tinggi yang memicu trading halt, Fakhrul menilai langkah Bursa Efek Indonesia sudah tepat dan sesuai dengan praktik yang berlaku di banyak bursa global. Trading halt dipandang sebagai instrumen penting untuk meredam kepanikan dan memberikan waktu bagi pelaku pasar untuk mencerna informasi secara lebih rasional.

“Mekanisme trading halt merupakan instrumen penting untuk menjaga stabilitas dan mencegah reaksi berlebihan di tengah pergerakan ekstrem. Ini memberi ruang bagi pasar untuk mencerna informasi secara lebih rasional,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa penghentian sementara perdagangan bukan bertujuan menghalangi mekanisme pasar, melainkan sebagai penyangga agar proses pembentukan harga tetap berjalan secara tertib dan efisien. Dalam situasi ekstrem, emosi sering kali mendominasi keputusan investasi, sehingga intervensi sementara menjadi relevan.

Lebih jauh, Fakhrul menekankan pentingnya koordinasi yang berkelanjutan antara Bursa Efek Indonesia, otoritas pasar modal, serta pemangku kebijakan lainnya. Menurutnya, stabilisasi jangka pendek perlu dibarengi dengan agenda reformasi struktural yang konsisten dan berkelanjutan.

“Ke depan, fokus tidak hanya pada stabilisasi jangka pendek, tetapi juga pada penguatan struktur pasar, peningkatan transparansi, serta perlindungan investor agar pasar saham Indonesia semakin kredibel dan berdaya saing di tingkat global,” tutup Fakhrul.

Koreksi tajam IHSG dan penerapan trading halt kali ini menjadi pengingat bahwa pasar saham Indonesia masih memiliki ruang perbaikan yang signifikan. Dengan memanfaatkan momentum ini secara konstruktif, para pemangku kepentingan diharapkan mampu memperkuat tata kelola, meningkatkan kepercayaan investor, dan menjaga posisi Indonesia di peta pasar modal global.