Logo Bloomberg Technoz

“Langkah ini dilakukan untuk meluruhkan intensitas hujan, bukan memindahkannya ke pemukiman lain,” tulis BMKG.

Meski demikian, BMKG mengingatkan banjir juga dipengaruhi daya dukung lingkungan. BMKG mencatat hilangnya sekitar 800 situ di Jabodetabek sejak 1930-an menjadi faktor utama berkurangnya daerah resapan dan meningkatkan risiko banjir.

“Penataan lingkungan harus terus dilakukan, dan penguatan kapasitas modifikasi cuaca juga perlu ditingkatkan karena potensi hujan ekstrem akan terus meningkat seiring tantangan perubahan iklim,”kata BMKG.

Penegasan itu disampaikan menyusul beredarnya narasi di media sosial yang menyebut OMC berisiko menjadi “bom waktu” jika dilakukan terus-menerus. 

Dalam unggahan tersebut, OMC diklaim dapat membuat kondisi cuaca tidak stabil, membentuk fenomena cold pool atau kolam dingin, hingga memindahkan air ke wilayah tertentu dan menyebabkan banjir besar.

Menanggapi hal itu, BMKG menjelaskan bahwa cold pool merupakan fenomena meteorologi yang sepenuhnya alami. “Cold pool terjadi saat air hujan menguap di bawah awan badai, mendinginkan udara, lalu menciptakan massa udara padat yang jatuh ke permukaan,” jelas BMKG.

BMKG menegaskan fenomena tersebut selalu terbentuk setiap kali terjadi hujan, baik secara alami maupun melalui percepatan hujan lewat OMC. “Mengaitkan cold pool sebagai efek samping berbahaya dari OMC adalah kekeliruan sains,” tegas BMKG.

Lebih lanjut, BMKG menyebut teknik penyemaian awan dalam OMC tidak menciptakan awan baru. “OMC tidak menumbuhkan awan baru, melainkan hanya bekerja pada awan yang sudah ada di alam,” tulis BMKG.

BMKG juga menepis anggapan bahwa manusia mampu menciptakan pendinginan atmosfer dalam skala besar. “Teknologi manusia saat ini belum mampu menciptakan massa udara dingin dalam skala besar. Modifikasi cuaca hanya memicu proses alami pada awan yang sudah jenuh,” jelasnya.

(dec)

No more pages