Logo Bloomberg Technoz

Indonesia berada di jalur Cincin Api Pasifik, kawasan dengan aktivitas tektonik paling aktif di dunia. Kondisi ini membuat Indonesia memiliki banyak zona subduksi aktif, sehingga risiko gempa megathrust menjadi salah satu ancaman bencana paling serius di Tanah Air.

Peta Gempa Indonesia 2024: Risiko Lebih Tinggi dari 2017

Dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, para peneliti mencatat peningkatan potensi bahaya gempa di sejumlah wilayah. Dibandingkan peta 2017, pembaruan ini menunjukkan detail yang lebih presisi, termasuk pemetaan zona megathrust yang lebih tersegmentasi.

Kontur bahaya yang semakin rapat menandakan akumulasi energi tektonik yang signifikan. Artinya, beberapa wilayah kini dipahami memiliki potensi gempa besar yang sebelumnya belum tergambarkan secara detail.

Sorotan Ahli Jepang: Indonesia Mirip Nankai Trough

Penambahan zona megathrust di Indonesia turut menarik perhatian ahli gempa dari Jepang. Profesor Kosuke Heki dari Hokkaido University menilai karakter geologi Indonesia memiliki kemiripan dengan Nankai Trough, salah satu zona megathrust paling aktif dan berbahaya di dunia.

Menurut Heki, di Jepang gempa besar bermagnitudo sekitar 8 terjadi dalam rentang waktu 50 hingga 100 tahun. Namun, ia menegaskan bahwa interval waktu bukan alat prediksi pasti, melainkan pola historis yang membantu memahami risiko jangka panjang.

Pemantauan Deformasi Bumi Jadi Kunci Mitigasi

Profesor Heki menekankan bahwa meski waktu terjadinya gempa besar sulit diprediksi, pemantauan deformasi kerak bumi secara jangka panjang sangat krusial. Teknologi seperti Global Navigation Satellite System (GNSS) dan pengukuran geodesi dasar laut berperan penting untuk membaca akumulasi tegangan di zona subduksi.

Ia menjelaskan bahwa di banyak zona subduksi, terjadi kopling antar seismik, yaitu kondisi ketika dua lempeng saling mengunci hampir di sepanjang palung. Akibatnya, regangan terus menumpuk, termasuk di bagian lempeng yang sangat dangkal, hingga akhirnya dilepaskan dalam bentuk gempa besar.

Slow Slip Event: Sinyal Awal yang Tak Boleh Diabaikan

Selain gempa besar yang terjadi tiba-tiba, Heki juga menyoroti fenomena slow slip event atau pergeseran lambat. Fenomena ini merupakan pergerakan lempeng yang sangat pelan dan sering kali tidak terasa oleh manusia.

Meski bergerak lambat, pergeseran ini berpotensi menjadi indikator awal menjelang gempa besar. Di Jepang, fenomena serupa telah diamati berulang kali di Nankai Trough dan wilayah rawan lainnya. Dalam beberapa kasus, slow slip event diketahui mendahului gempa besar.

Peluang Indonesia Mengembangkan Sistem Pemantauan Canggih

Petugas memantau peringatan gempa dan tsunami di Gedung BMKG, Jakarta, Jumat (8/11/2024). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Dengan banyaknya zona subduksi aktif mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, Lombok hingga Maluku, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mengembangkan sistem pemantauan gempa yang lebih maju. Penguatan jaringan GNSS dan teknologi pemantauan dasar laut dapat membantu membaca akumulasi tegangan tektonik secara lebih presisi.

Profesor Heki bahkan menyatakan bahwa ia tengah mengerjakan isu ini di Indonesia, menandakan adanya kolaborasi ilmiah internasional untuk meningkatkan kesiapsiagaan gempa nasional.

Zona Megathrust dengan Potensi Gempa Terbesar

Dalam peta terbaru, zona Megathrust Aceh–Andaman tercatat sebagai wilayah dengan potensi gempa terbesar, dengan magnitudo maksimum mencapai 9,2. Sementara itu, Megathrust Jawa memiliki potensi gempa hingga magnitudo 9,1.

Zona lain seperti Mentawai–Siberut, Mentawai–Pagai, dan Enggano juga menyimpan potensi gempa sangat besar, masing-masing hingga magnitudo 8,9. Angka-angka ini menegaskan bahwa risiko gempa besar di Indonesia bukanlah isu hipotetis, melainkan ancaman nyata yang perlu dikelola secara serius.

Seismic Gap: Energi Besar yang Masih Tersimpan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut menyoroti keberadaan dua zona megathrust yang masih berada dalam kondisi seismic gap, yaitu Selat Sunda dan Mentawai–Siberut. Kedua wilayah ini telah ratusan tahun tidak melepaskan energi besar, masing-masing sejak gempa terakhir pada 1757 dan 1797.

BMKG menegaskan bahwa istilah “menunggu waktu” tidak berarti memprediksi kapan gempa akan terjadi. Istilah tersebut merujuk pada energi tektonik yang masih tersimpan akibat lamanya periode tanpa gempa besar, bukan penanda bahwa gempa akan terjadi dalam waktu dekat.

Daftar Lengkap 14 Zona Megathrust Terbaru Indonesia

Ilustrasi Gempa (Envato/kckate16)

Berikut 14 zona megathrust terbaru berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024:

  1. Aceh–Andaman (Maksimum M 9,2)

  2. Nias–Simeulue (Maksimum M 8,7)

  3. Batu (Maksimum M 7,8)

  4. Mentawai–Siberut (Maksimum M 8,9)

  5. Mentawai–Pagai (Maksimum M 8,9)

  6. Enggano (Maksimum M 8,9)

  7. Jawa (Maksimum M 9,1)

  8. Jawa Bagian Barat (Maksimum M 8,9)

  9. Jawa Bagian Timur (Maksimum M 8,9)

  10. Sumba (Maksimum M 8,9)

  11. Sulawesi Utara (Maksimum M 8,5)

  12. Palung Cotobato (Maksimum M 8,3)

  13. Filipina Selatan (Maksimum M 8,2)

  14. Filipina Tengah (Maksimum M 8,1)

Bertambahnya zona megathrust di Indonesia bukan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan. Dengan pemetaan yang semakin akurat, langkah mitigasi seperti tata ruang berbasis risiko, edukasi kebencanaan, serta penguatan sistem peringatan dini menjadi semakin penting.

Peta Gempa Indonesia 2024 mengingatkan bahwa hidup di wilayah rawan gempa menuntut kesiapan berkelanjutan. Risiko tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya dapat diminimalkan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesiapsiagaan bersama.

(seo)

No more pages