Dengan begitu jika wacana menyetop impor bensin setara Pertamax tersebut ingin dijalankan, Indonesia perlu menambah satu proyek refinery development master plan (RDMP) baru selain di Kilang Balikpapan, atau bahkan segera menyelesaikan pembangunan grass root refinery (GRR) di Kilang Tuban.
“Ada potensi gangguan jika tidak diantisipasi dengan baik. Saya kira pemerintah tetap perlu membuka opsi impor [BBM] jika kenyataannya target tersebut diperkirakan tidak tercapai,” tegas dia.
Dia juga mewaspadai lambatnya revitalisasi atau pembangunan kilang baru tersebut, sebab hal serupa telah terjadi dalam proses pembangunan kilang yang ada.
“Risikonya antara lain keterlambatan investasi atau fluktuasi harga minyak mentah global, sehingga target ini berpotensi terlambat, jika merujuk ke sejarah proyek kilang sebelumnya,” papar Ishak.
Sekadar informasi, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan rencana penghentian impor bensin hanya dilakukan untuk nilai oktan atau RON 92, RON 95, dan RON 98.
Rencanannya, penghentian impor bensin itu dilakukan pada akhir 2027. Adapun, bensin RON 90 atau setara bensin bersubsidi Pertalite bakal tetap diimpor.
Bahlil menyatakan keputusan terkait dengan penyetopan impor sejumlah jenis BBM tersebut akan diputuskan oleh Kementerian ESDM pada akhir 2027.
“Kemudian bensin yang RON 92, 95, 98 [akan distop impornya]. Jadi tinggal kita impor yang RON 90 saja, yang untuk subsidi,” kata Bahlil dalam rapat kerja di Komisi XII DPR, Kamis (22/1/2026).
Bahlil menegaskan ketika impor BBM nonsubsidi distop, Indonesia bakal menggantinya dengan impor minyak mentah dan mengolahnya sendiri di kilang domestik.
Bagaimanapun, dalam kesempatan yang sama, Bahlil justru mengaku pesimistis torehan lifting minyak Indonesia bisa kembali ke level 1,6 juta bph, seperti torehan yang terjadi sebelum era reformasi.
Bahlil sempat berkelakar bahwa lifting minyak Indonesia bisa kembali menyentuh level 1,6 juta barel pada 2029, jika terdapat mukjizat yang diberikan oleh Tuhan.
Bahlil meyakini torehan lifting minyak Indonesia akan berada di rentang 800.000—900.000 bph pada 2029, jika melihat potensi sumur-sumur minyak yang dimiliki Indonesia.
“Akan tetapi, kalau 800.000, 900.000, insyallah masih bisa,” ucap Bahlil.
Adapun, lifting minyak Indonesia mengalami era keemasan sejak 1997. Kala itu, lifting minyak Indonesia menyentuh 1,5 juta bph dan bertahan pada level yang sama hingga 1998.
Pada 1999, lifting minyak Indonesia sedikit menurun ke level 1,4 juta bph dan bertahan di level yang sama hingga 2000.
Memasuki 2001, lifting minyak Indonesia masih berada di atas 1 juta bph yakni 1,2 juta bph. Kemudian pada 2022 menjadi 1,2 juta bph, 2003 1,1 juta bph, 2005 1 juta bph, dan akhirnya turun menjadi 963.000 bph pada 2007.
(azr/wdh)






























