Dengan tetap ada di bawah US$90.000 memberi sinyal bahwa Bitcoin dalam zona bahaya meskipun analis pada awal Januari sempat memperkirakan BTC akan berada di atas US$100.000. Putar haulan ini tak lepas terbebani faktor eksternal. Data pada Indeks Fear & Greed memperlihatkan level 29, selangkah menuju zona “Extreme Fear”.
Panji Yudha, analis dari Ajaib Kripto, menilai ada kecenderungan pemegang Bitcoin mulai menjual aset mereka dalam kondisi rugi untuk pertama kalinya sejak Oktober 2023, mengutip data CryptoQuant, Selasa (27/1/2026). “Pola ini biasanya mengindikasikan fase konsolidasi yang berkepanjangan,” terang dia.
Industri aset digital masih memantau kondisi makro pasar ekuitas dan pergerakan dolar AS yang terus melemah sejak 18 September. Hal yang berimbas pada bergeraknya arus dana ke instrumen emas karena risiko geopolitik yang tinggi dan ketidakpastian fiskal AS dibandingkan ke pasar kripto.
“Pelemahan dolar ini secara unik dipicu oleh langkah kolaboratif antara bank sentral AS atau Federal Reserve dan Bank of Japan yang melakukan intervensi pasar untuk mendongkrak nilai tukar Yen terhadap Greenback.”
Tony Sycamore dari IG Australia mengurai kondisi serupa, yakni ancaman tarif impor AS ke Kanada dari Donald Trump, hingga memanasnya tensi perang Amerika dan Iran jadi perhatian pelaku di pasar.
Kapitalisasi Bitcoin US$1,7 Triliun
Pasar aset digital masih dalam posisi penguatan dengan kapitalisasi pasar US$2,95 triliun, masih ada di tren positif 1,95% sejalan dengan market cap Bitcoin (+0,03%) dan sementara bertengger pada level US$1,76 triliun.
Valuasi Bitcoin belum kembali ke top performanya, yang kini melorot ke posisi delapan dalam daftar peringkat aset terbesar dunia. Tahun lalu Bitcoin pernah mencetak sejarah dengan merebut posisi kelima.
Bitcoin hari ini masih kalah dibandingkan valuasi jajaran perusahaan teknologi top asal Amerika Serikat termasuk Alphabet yang mencetak US$4,02 triliun. Induk perusahaan Google pada April 2025 sempat Bitcoin kalahkan namun kini kembali ke puncak kinerjanya.
Pelemahan Bitcoin tidak lepas dari pertumbuhan negatif nilai yang signifikan, bahkan kini kalah dari valuasi yang dicatatkan Amazon sebesar US$2,54 triliun. Perusahaan teknologi lain yang melampaui Bitcoin diantaranya; Nvidia US$4,5 triliun di posisi ketiga, Apple US$3,77 triliun di peringkat kelima, Microsoft US$3,49 triliun di peringkat keenam.
Bitcoin sementara hanya unggul dari TSMC, perusahaan produsen chip yang kini dinilai tinggi akibat animo investasi kecerdasan buatan asal Taiwan dengan valuasi US$1,76 triliun. Pada urutan paling buncit dalam daftar 10 aset terbesar dunia ada Meta Platforms sekitar US$1,69 triliun.
(red/wep)



























