Isu inflasi diprediksi akan menjadi beban pikiran utama para pemilih. Survei yang dilakukan lembaga penyiaran publik NHK awal Januari menunjukkan bahwa 45% responden menganggap masalah prioritas utama pemerintah seharusnya adalah tingginya biaya hidup.
Lonjakan harga pangan menjadi penggerak utama inflasi. Data terbaru pada hari Jumat menunjukkan pertumbuhan harga konsumen telah melampaui target 2% bank sentral selama empat tahun berturut-turut. Bahkan, proporsi pengeluaran pangan terhadap total konsumsi rumah tangga pada November mencapai 28,9%, rekor tertinggi untuk bulan tersebut sejak tahun 2000.
Langkah menempatkan penangguhan pajak pangan sebagai janji utama kampanye Partai Demokrat Liberal (LDP) menandai pergeseran drastis dari pendekatan konservatif mereka sebelumnya terkait pemotongan pajak. Hal ini menunjukkan keselarasan yang lebih erat dengan mitra koalisi barunya, Partai Inovasi Jepang (JIP), yang sebelumnya memang mengusulkan pemotongan pajak pangan selama dua tahun.
Membubarkan parlemen saat pihak oposisi sedang terpecah belah telah lama menjadi strategi LDP untuk mempertahankan kekuasaan sejak pasca-perang. Namun, kali ini situasinya lebih rumit.
Seruan Takaichi untuk pembubaran parlemen justru menyatukan partai oposisi terbesar dengan mantan mitra koalisi LDP, membentuk blok oposisi yang lebih besar bernama Centrist Reform Alliance. Kehadiran partai baru ini meningkatkan risiko dari perjudian politik yang diambil perdana menteri.
Kesesuaian kemitraan baru antara LDP dan JIP juga belum teruji dalam konteks pemilu. Selama ini, LDP bekerja sama dengan mitra lamanya, Komeito, dalam pemilu dan dapat mengandalkan dukungan akar rumput berbasis organisasi Buddha. Sebaliknya, hubungan LDP dan JIP lebih terbatas pada kesamaan kebijakan. Wakil ketua JIP Hirofumi Yoshimura menegaskan tidak berniat mengoordinasikan kandidat dan siap “bertarung habis-habisan” dengan LDP jika diperlukan.
Sejumlah partai kecil lainnya juga berpotensi menggerus suara LDP. Partai Demokrat untuk Rakyat, meski kecil, memiliki pengaruh signifikan dan sebelumnya terbukti mampu menjalankan kampanye yang sukses dengan slogan lugas “menaikkan pendapatan bersih.” Sementara itu, Sanseito, partai sayap kanan pinggiran, menempati posisi keempat dalam pemilu majelis tinggi tahun lalu, memanfaatkan citra sebagai partai nonkemapanan dan, pada sejumlah kesempatan, memainkan sentimen anti-asing yang masih bergejolak.
(bbn)
































