Berdasarkan data RTI Business, jumlah investor ritel DADA terus meningkat sepanjang periode volatilitas harga saham. Hingga akhir Desember 2025, jumlah investor bertambah dari **73.893 menjadi 79.123 investor, seiring pergerakan saham yang fluktuatif.
Di tengah kondisi tersebut, pengendali perseroan tercatat melepas sebagian kepemilikannya. Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), KPII menjual 600 juta saham DADA pada periode 8–9 Januari 2026, sehingga kepemilikannya turun dari 29,60% menjadi 21,53%, atau tersisa sekitar 1,6 miliar saham.
Aksi divestasi tersebut dilakukan ketika saham DADA berada di zona penguatan di level sekitar Rp63/saham, sebelum kembali melemah ke kisaran Rp50-an pada perdagangan selanjutnya.
Sebelumnya, saham DADA sempat mencatat lonjakan tajam pada Rabu (7/1/2026). Pada jeda perdagangan sesi pagi, harga saham berada di kisaran Rp60, dengan kenaikan sekitar 20% secara year to date (ytd). Data RTI Business menunjukkan saham ini sempat menyentuh level Rp67/saham, atau naik sekitar 34%, dengan antrean beli mencapai sekitar 6,12 juta lot.
Aksi penjualan saham oleh KPII juga bukan kali pertama dilakukan saat harga berada di level tinggi. Pada 10 Oktober 2025, KPII tercatat melepas 2,14 miliar saham DADA ketika harga saham berada di puncaknya. Dengan asumsi harga penutupan Rp152/saham, nilai transaksi tersebut diperkirakan mencapai Rp326,04 miliar.
Seiring rangkaian aksi divestasi tersebut, porsi kepemilikan KPII menyusut signifikan dari 69,58% sebelum IPO menjadi 29,60% per 23 Oktober 2025.
Adapun hingga perdagangan Kamis (16/1/2026) saham DADA berada di level Rp51/saham dengan antrean jual membludak hingga 2,24 juta lot. Sementara kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp279,01 juta
(ain)



























