Melemahnya IHSG merupakan efek secara langsung dari tertekannya sejumlah saham Big Caps, terutama pada perdagangan siang hari tadi.
Berikut diantaranya berdasarkan data Bloomberg, Senin (12/1/2026).
- Barito Renewables Energy (BREN) mengurangi 17,64 poin
- Barito Pacific (BRPT) mengurangi 12,66 poin
- Bank Central Asia (BBCA) mengurangi 9,51 poin
- Amman Mineral Internasional (AMMN) mengurangi 6,85 poin
- Bumi Resources (BUMI) mengurangi 6,77 poin
- Petrosea (PTRO) mengurangi 4,84 poin
- IndoKripto Koin Semesta (COIN) mengurangi 4,71 poin
- Chandra Asri Pacific (TPIA) mengurangi 4,68 poin
- Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) mengurangi 3,83 poin
- Pantai Indah Kapuk Dua (PANI) mengurangi 3,24 poin
Adapun saham–saham LQ45 lainnya juga jadi pendorong pelemahan IHSG, saham PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) drop 6,58%, saham PT XLSmart Tbk (EXCL) terpeleset 5,87%, dan saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) juga melemah dengan kehilangan 3,55%.
Disusul oleh pelemahan saham infrastruktur, yaitu saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) yang turun 2,51%, saham PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) melemah 1,75%, dan saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) yang mencetak pelemahan 1,38%.
Analis Phintraco Sekuritas menyebut, IHSG ditutup melemah di level 8.884,72 pada perdagangan Senin, setelah sempat menguat dan kembali mencapai level psikologis 9.000.
Seperti yang dinilai Phintraco, IHSG yang belum mampu bertahan di atas level 9.000 memicu terjadinya aksi profit taking, terutama terhadap saham–saham konglomerasi yang telah reli dan menjadi kontributor penguatan IHSG.
“Pelemahan saham-saham tersebut disinyalir juga mengantisipasi pengumuman MSCI mengenai kebijakan baru perhitungan free float yang akan diumumkan pada akhir bulan ini,” papar Phintraco, Senin.
Profit taking tersebut telah memicu terjadinya panic selling sehingga sempat membuat IHSG tertekan hingga level 8.715, sebelum membaik namun masih ditutup di area negatif.
IHSG ditutup di bawah level MA5. Indikator MACD dan Stochastic RSI mengindikasikan potensi berlanjutnya pelemahan yang didukung oleh volume jual.
“Sehingga IHSG diperkirakan bergerak sideways cenderung melemah dan berpeluang menguji support di 8.725 – 8.800.”
Di saat yang bersamaan, IHSG berhasil uji support MA–20 di level 8.751.
Jika dipantau lebih dekat menggunakan hourly chart, terdeteksi bullish divergence pada indikator stochastic, sehingga IHSG berpotensi menguat menuju resistance terdekat 9.003, mengutip riset Panin Sekuritas.
“Di sisi lain, MA–50 sekaligus Lower Parallel Channel di sekitar 8.562 – 8.660 diharapkan mampu menopang pergerakan IHSG,” sebut Panin.
(fad)





























