Harga emas dunia sukses menguat selama 3 hari perdagangan beruntun. Selama tiga hari tersebut, harga terangkat 4%.
Dinamika geopolitik global masih panas. Investor masih memonitor perkembangan di Venezuela usai penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat (AS).
Saat situasi di sana belum stabil, kini ada sentimen baru yang juga menjadi perhatian pelaku pasar. Investor bersiap menyambut rilis data ketenagakerjaan di AS akhir pekan ini.
Kemarin, Institute for Supply Management (ISM) melaporkan aktivitas manufaktur Negeri Paman Sam yang diukur dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) untuk periode Desember 2025 sebesar 47,9. Turun dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 48,2.
PMI di bawah 50 menandakan aktivitas yang berada di zona kontraksi, bukan ekspansi. Aktivitas manufaktur AS mengalami kontraksi selama 10 bulan beruntun. Skor PMI manufaktur pada Desember 2025 juga menjadi yang terendah sejak Oktober 2024 atau lebih dari setahun.
Data ini memberi gambaran bahwa sepertinya pasar tenaga kerja AS belum terlampau solid. Artinya, ada peluang bank sentral Federal Reserve melonggarkan kebijakan moneter dengan penurunan suku bunga acuan.
Mengutip CME FedWatch, kemungkinan Federal Funds Rate turun 25 basis poin (bps) menjadi 3,25-3,5% dalam rapat bulan ini memang masih 17,2%. Namun ini sudah lebih tinggi ketimbang posisi seminggu lalu yaitu 16,6%.
Meningkatnya harapan bahwa The Fed bakal menurunkan suku bunga acuan menjadi sentimen positif bagi emas. Sebab, emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas akan terasa lebih menguntungkan saat suku bunga turun.
(aji)






























