Saham–saham barang baku, saham energi, dan saham transportasi menjadi pendorong kenaikan IHSG hingga berhasil pecah level tertinggi baru, dengan menguat 2,62%, 2,31%, dan 2,01%, disusul oleh menguatnya saham Konsumen non primer mencapai 1,66%.
Saham–saham kesehatan juga berhasil mengalami penguatan 1,62%.
Kenaikan IHSG yang begitu percaya diri merupakan efek secara langsung dari melesatnya sejumlah saham Big Caps, atau pun saham–saham Blue Chip.
Berikut selengkapnya berdasarkan data Bloomberg, Senin (5/1/2026).
- Bayan Resources (BYAN) menyumbang 17,61 poin
- Bumi Resources Minerals (BRMS) menyumbang 14,24 poin
- Telkom Indonesia (TLKM) menyumbang 11,61 poin
- Bumi Resources (BUMI) menyumbang 11,46 poin
- Amman Mineral Internasional (AMMN) menyumbang 6,09 poin
- Bank Central Asia (BBCA) menyumbang 4,75 poin
- DCI Indonesia (DCII) menyumbang 3,96 poin
- Merdeka Copper Gold (MDKA) menyumbang 3,95 poin
- Aneka Tambang (ANTM) menyumbang 3,4 poin
- Pacific Strategic Financial (APIC) menyumbang 3,25 poin
Saham–saham unggulan LQ45 juga jadi pemicu penguatan hingga IHSG cetak rekor baru, saham PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) melesat 6,16%, saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menguat 5,66%, saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) terbang 2,65%, dan juga saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) melejit 2,62%.
Menyusul rekan–rekannya, saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) melesat 2,42%, saham PT United Tractors Tbk (UNTR) terapresiasi 2,33%. Senada, saham PT XLSmart Tbk (EXCL) menguat 1,87%, dan saham PT Indah Kiat Pulp and Paper Corp Tbk (INKP) meninggi 1,71%.
Adapun Bursa Asia hari ini juga berhasil menguat. Indeks Kospi Korea Selatan melejit 3,43%, NIKKEI 225 Jepang melesat 2,97%, Shenzhen Composite China melejit 2%, SETI Thailand melesat 1,56%, PSEI Filipina bertambah 0,48%, Strait Times Singapura menguat 0,52%, dan Hang Seng Hong Kong terapresiasi 0,03%.
Penguatan IHSG tersulut sentimen inflasi Indonesia pada Desember 2025 yang tercatat sebesar 2,92% secara tahunan, dan terjadi inflasi 0,64% secara bulanan, dengan itu, terjadi inflasi 2,92% year–to–date, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 109,92.
Kenaikan tahunan terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencatat inflasi 4,58% year–on–year/ secara tahunan, dan memberikan andil inflasi 1,33% yoy. Komoditas yang paling mendorong inflasi adalah emas perhiasan, dengan andil sebesar 0,79% secara tahunan.
“Kami menilai inflasi bulanan yang melampaui ekspektasi konsensus mencerminkan peningkatan permintaan konsumsi akhir tahun, seiring perayaan Natal dan libur Tahun Baru,” mengutip riset MNC Sekuritas.
Terlebih lagi, Badan Pusat Statistik melaporkan catatan neraca perdagangan Indonesia pada November yang berhasil mengalami surplus sebesar US$2,66 miliar. Ini merupakan surplus 67 bulan berturut–turut sejak Mei 2020.
Sementara itu, Phintraco Sekuritas memaparkan, IHSG ditutup menguat di level 8.859,19 pada perdagangan Senin, yang merupakan level tertinggi baru.
Sector basic material membukukan kenaikan terbesar, seiring dengan kenaikan mayoritas harga komoditas logam. Serangan AS terhadap Venezuela ternyata tidak berdampak signifikan ke pasar modal, namun mendorong kenaikan harga mayoritas komoditas logam.
“Demikian juga dengan indeks di Bursa Asia yang mayoritas ditutup menguat (5/1/2026). Namun Rupiah ditutup melemah di level Rp16.740/US$ di pasar spot, seiring dengan mayoritas mata uang di Asia yang cenderung melemah,” terang Phintraco, Senin.
Secara teknikal, indikator MACD membentuk golden cross seiring dengan penguatan Stochastic RSI di area pivot. Hal ini juga ditopang oleh kenaikan volume beli.
“Sehingga diprediksi IHSG berpeluang melanjutkan penguatan menuju level 8.900.”
(fad)




























