Rodriguez (56) merupakan pengacara lulusan Universitas Pusat Venezuela dan telah menjadi figur sentral Chavismo—gerakan politik warisan Hugo Chávez—selama lebih dari dua dekade.
Bersama saudara laki-lakinya, Jorge Rodriguez (Presiden Majelis Nasional saat ini), Delcy telah menduduki berbagai posisi strategis sejak era Chávez. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Komunikasi (2013-2014) dan Menteri Luar Negeri (2014-2017). Di panggung internasional, ia dikenal vokal membela rezim Maduro dari kritik terkait isu HAM dan kemunduran demokrasi.
Pada 2018, Maduro menunjuknya sebagai Wakil Presiden untuk masa jabatan kedua, dan posisi tersebut tetap ia pegang hingga periode ketiga yang dimulai pada 10 Januari 2025. Hingga saat penangkapan Maduro, ia memegang kendali penuh atas otoritas ekonomi dan sektor perminyakan negara tersebut.
Presiden Sementara
Mahkamah Agung Venezuela memerintahkan Rodriguez untuk segera mengambil alih dan menjalankan seluruh kekuasaan kepresidenan dalam kapasitas sebagai pelaksana tugas (Plt) pada Sabtu. Pengadilan menyimpulkan bahwa Maduro berada dalam kondisi "ketidakmungkinan secara material dan temporal untuk menjalankan fungsinya."
Berdasarkan surat perintah yang dibacakan oleh Hakim Tania D’Amelio dalam siaran langsung di kanal televisi negara, VTV, Rodriguez akan segera mengemban tanggung jawab penuh.
"Rodriguez akan mengemban dan menjalankan, sebagai penjabat presiden, seluruh wewenang, tugas, dan fakultas yang melekat pada jabatan presiden Republik Bolivar Venezuela, guna menjamin kesinambungan administratif dan pertahanan nasional yang komprehensif," demikian bunyi perintah tersebut.
Melunak pada AS
Rodriguez pun menunjukkan sikap lebih lunak terhadap pemerintahan Trump setelah bertugas sebagai presiden. Rodríguez meminta AS agar bekerja sama dengan negaranya.
"Kami mengundang pemerintah AS untuk bekerja sama dalam agenda kerja sama, yang bertujuan untuk pembangunan bersama, dalam kerangka hukum internasional, dan untuk memperkuat kerukunan komunitas yang berkelanjutan," katanya dalam pernyataan yang dirilis pada Minggu (4/1) malam waktu setempat.
Ini merupakan perubahan drastis dari pernyataan yang dia buat beberapa jam setelah pasukan AS menangkap Maduro pada Sabtu dan melancarkan serangkaian serangan terarah ke ibu kota dan kota-kota sekitarnya. Pernyataan awalnya mengecam tindakan tersebut dan menuntut agar Maduro dikembalikan.
(del)





























