Logo Bloomberg Technoz

“Sebagai bagian dari langkah kehati-hatian dan komitmen perusahaan dalam memastikan keselamatan serta keberlangsungan operasional,” ungkap Dhaneswari.

Sebelumnya, tim pasukan khusus angkatan darat AS Delta Force menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro, bersamaan dengan serangan yang terjadi di wilayah Caracas pada Sabtu (3/1/2026) waktu setempat.

Usai penangkapan tersebut, Departemen Kehakiman AS langsung mendakwa Maduro atas peran kuncinya dalam konspirasi besar selama 25 tahun untuk menyelundupkan kokain ke AS.

Operasi tersebut diduga dilakukan dengan bantuan kelompok teroris dan kartel narkoba regional, sekaligus menjadi dakwaan usai dirinya ditangkap bersama dengan istrinya, Cilia Flores.

Dalam perkembangannya, Presiden AS Donald Trump mengatakan perusahaan minyak Negeri Uncle Sam akan menghabiskan miliaran dolar untuk membangun kembali infrastruktur energi Venezuela yang runtuh setelah operasi militer tersebut.

Melansir Bloomberg News, Trump menggambarkan visi ambisius untuk menggunakan sumber daya keuangan AS dan pengetahuan industri untuk mengembalikan sektor minyak negara Amerika Selatan itu ke kejayaannya semula.

“Kami akan meminta perusahaan minyak Amerika Serikat yang sangat besar — ​​yang terbesar di dunia — untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah — infrastruktur minyak — dan mulai menghasilkan uang untuk negara itu,” kata Trump.

“Mereka akan mendapatkan penggantian biaya.”

Saat ini, Venezuela memproduksi sekitar 800.000 barel minyak per hari, kurang dari 1% dari produksi global, menurut Kpler, yang melacak data pengiriman.

Produksi dapat meningkat sekitar 150.000 barel per hari dalam beberapa bulan jika sanksi dicabut, tetapi untuk kembali ke 2 juta barel per hari atau lebih tinggi akan membutuhkan  reformasi besar-besaran dan investasi besar dari perusahaan minyak internasional, menurut Matt Smith, analis minyak utama Amerika di Kpler.

(azr/naw)

No more pages