Dari kapal-kapal yang diidentifikasi Departemen Keuangan pada Rabu, hanya satu yang tercatat berada cukup dekat dengan wilayah Venezuela dalam waktu terakhir, berdasarkan data pelacakan kapal, yakni Rosalind. Kapal tersebut biasanya terlibat dalam pelayaran jarak pendek yang dikenal sebagai cabotage. Namun, tidak menutup kemungkinan kapal-kapal lain melakukan pelayaran tanpa mengaktifkan data transponder.
Tekanan Meningkat
Sanksi ini merupakan manuver terbaru Trump dalam memberantas dugaan operasi perdagangan narkoba oleh Venezuela. Sebelumnya pada hari Selasa, Departemen Keuangan juga menjatuhkan sanksi kepada 10 individu dan perusahaan asal Iran serta Venezuela terkait perdagangan senjata.
Dalam beberapa pekan terakhir, pasukan AS telah mencegat dua kapal pengangkut. Sebuah kapal ketiga berbalik arah meninggalkan Venezuela dan mundur ke Samudra Atlantik setelah dikejar oleh pasukan AS.
Amerika Serikat juga melancarkan serangan terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat dalam perdagangan narkoba di lepas pantai Venezuela, serta menerapkan blokade terhadap kapal tanker minyak yang dikenai sanksi guna mengganggu ekspor energi yang menjadi tulang punggung ekonomi negara tersebut.
Komando Selatan AS pada Rabu menyatakan telah menyerang tiga kapal tambahan pada 30 Desember, menenggelamkannya dan menewaskan tiga orang. Sementara itu, sejumlah awak di dua kapal lainnya dilaporkan melompat ke laut dan berenang menjauh sebelum kapal mereka ditenggelamkan dalam serangan lanjutan.
Dalam perubahan mencolok dibandingkan operasi pada September yang menuai kritik keras—ketika AS melancarkan serangan kedua yang menewaskan para penyintas serangan pertama—Komando Selatan menyatakan telah memberi tahu Penjaga Pantai AS untuk mengaktifkan operasi pencarian dan penyelamatan. Namun, nasib mereka yang melompat ke laut tidak diungkapkan dalam pengumuman serangan tersebut.
Hubungan dengan China
China mengkritik karantina AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Venezuela sebagai bentuk “perundungan sepihak” dan menyebut penyitaan kapal sebagai pelanggaran hukum internasional. Kilang swasta China yang dikenal sebagai teapots, yang menyumbang hingga seperlima dari total kapasitas penyulingan nasional, selama bertahun-tahun menjadi pembeli setia minyak mentah Venezuela meskipun ada sanksi AS.
China secara resmi sempat menghentikan impor minyak mentah Venezuela setelah sanksi AS diberlakukan pada 2019, sebelum kembali melanjutkan impor pada Februari 2024. Namun melalui jalur tidak resmi, negara pengimpor minyak mentah terbesar di dunia itu disebut tidak pernah benar-benar menghentikan pembelian. Minyak Venezuela kerap disamarkan sebagai campuran bitumen, menurut para pedagang dan penyedia data pihak ketiga.
Pada Senin, Trump mengonfirmasi bahwa AS juga telah menyerang sebuah fasilitas di dalam wilayah Venezuela, dengan menargetkan dermaga pemuatan yang digunakan oleh kapal-kapal yang diduga terlibat dalam perdagangan narkoba. Serangan ini menandai eskalasi besar dalam kampanye militer AS. Trump telah lama mengancam akan memperluas serangan hingga menyasar fasilitas-fasilitas Venezuela di darat.
CNN melaporkan bahwa CIA melakukan serangan drone terhadap sebuah dermaga di sepanjang pantai Venezuela yang diyakini otoritas AS terkait dengan kelompok kriminal Tren de Aragua. Tidak ada korban jiwa dalam serangan tersebut, menurut laporan yang mengutip sumber anonim.
(bbn)





























