Secara teknikal dengan perspektif mingguan (weekly time frame), emas mantap di zona bullish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) yang sebesar 75.
RSI di atas 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bullish. Namun hati-hati, karena RSI di atas 70 juga menjadi pertanda bahwa sudah jenuh beli (overbought).
Sementara indikator Stochastic RSI ada di 35. Menghuni area jual (short) yang lumayan kuat.
Untuk perdagangan minggu ini, harga emas berisiko turun. Maklum, kenaikannya sudah begitu tinggi, Harga sudah berada di titik tertinggi sejak menyentuh rekor termahal sepanjang sejarah.
Cermati pivot point di US$ 4.275/troy ons. Dari sini, harga emas berisiko menguji support US$ 4.220/troy ons yang menjadi Moving Average (MA) 5. Target berikutnya adalah MA-10 di US$ 4.154/troy ons.
Target paling pesimistis atau support terjauh ada di US$ 4.013/troy ons.
Namun andai harga emas masih kuat menanjak, maka target resisten terdekat adalah US$ 4.319/troy ons. Resisten lanjutan ada di US$ 4.346-4.394/troy ons.
Target paling optimistis atau resisten terjauh ada di US$ 4.578/troy ons.
Sentimen Penggerak Harga Emas
Perkembangan dari Amerika Serikat (AS) sepertinya masih kuat dalam menggerakkan harga emas. Pekan lalu, bank sentral Federal Reserve memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan sebanyak 25 basis poin (bps) menjadi 3,5-3,75%.
Kini pasar sedang membaca bagaimana arah kebijakan moneter The Fed pada 2026. Apakah ruang pelonggaran moneter masih terbuka?
Dalam dot plot terbaru, The Fed melempar sinyal hanya akan menurunkan suku bunga acuan setidaknya sekali pada tahun depan. Tidak lebih agresif ketimbang tahun ini di mana Federal Funds Rate turun tiga kali.
Terbaru, datang pernyataan dari Gubernur The Fed Cleveland Beth Hammack. Menurutnya, suku bunga kebijakan mungkin sudah saatnya lebih restriktif. Ini dilakukan demi menekan laju inflasi menuju target 2%.
“Saat ini, posisi (stance) kebijakan kami sekitar netral. Saya lebih memilih stance yang agak cenderung restriktif,” tegasnya, seperti diwartakan Bloomberg News.
Pandangan serupa datang dari Jeff Schmid, Presiden The Fed Kansas City. Sebagai informasi, Scmid adalah Anggota Komite Pengambil Kebijakan The Fed (Federal Open Market Committee/FOMC) yang memiliki pandangan berbeda atau dissenting opinion. Schmid lebih memilih mempertahankan suku bunga acuan dalam rapat minggu lalu.
“Inflasi masih terlalu tinggi. Perekonomian menunjukkan momentum dan pasar tenaga kerja, meski melambat, tetapi secara umum masih seimbang. Saya memandang stance kebijakan moneter perlu sedikit restriktif,” sebut Schmid, seperti dinukil dari Bloomberg News.
Arah suku bunga akan sangat menentukan pergerakan harga emas. Sebab, emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).
Memegang emas akan lebih menguntungkan saat suku bunga turun. Sebaliknya, emas menjadi kurang menarik saat suku bunga masih tinggi.
(aji)






























