Penjualan saham dalam rangka aksi ambil untung (profit taking) pada Jumat setelah indeks saham mencapai rekor tertinggi tidak mengejutkan, menurut Louis Navellier, kepala investasi di Navellier & Associates.
“Bubble AI sedang mengempis tetapi belum meledak,” kata Navellier. “Kekhawatiran yang meningkat terkait perjanjian OpenAI mungkin menjadikan kenaikan lebih lanjut menjadi menantang.”
Penjualan besar-besaran meredam euforia yang dipicu oleh pemangkasan suku bunga ketiga berturut-turut oleh Federal Reserve (The Fed) pekan ini. Investor juga harus menghadapi informasi yang bertentangan dari pejabat Fed setelah mereka mempertahankan proyeksi mereka untuk pemotongan suku bunga tunggal pada 2026.
Imbal hasil Treasury bertenor 30 tahun naik 6 basis poin (bps) ke level tertinggi dalam tiga bulan setelah Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, mengatakan ia lebih memilih suku bunga sedikit lebih ketat untuk terus menekan inflasi yang masih terlalu tinggi.
Jeff Schmid dari Federal Reserve Kansas City juga menyoroti tekanan harga konsumen. Schmid mengatakan ia menentang keputusan bank sentral pekan ini untuk menurunkan suku bunga karena inflasi masih terlalu tinggi dan ekonomi terus menunjukkan momentum.
“Mengingat kalender, ini bisa menjadi hari di mana Wall Street mengambil napas sejenak dari laju yang sangat cepat belakangan ini,” kata Joe Mazzola, kepala strategi perdagangan dan derivatif di Charles Schwab. “Laporan keuangan dan data utama langka, akhir pekan sudah dekat, dan investor semakin menantikan laporan tenaga kerja pada Selasa depan.”
‘Harga yang Pantas Dibayar’
Diversifikasi di berbagai titik dan tema menjadi pertimbangan utama. Setelah raksasa teknologi mendominasi kenaikan saham sepanjang tahun, kekhawatiran tentang valuasi yang terlalu tinggi dan pengeluaran modal yang besar mendorong investor untuk mencari peluang di tempat lain.
“Mengingat kondisi pasar saat ini, diversifikasi kini menjadi harga yang layak dibayar untuk tetap berinvestasi penuh di saham,” tulis Mark Wilson dari Goldman Sachs. Ia menambahkan bahwa ada cerita investasi yang menarik, termasuk Korea, Jepang, China, atau pasar emerging markets secara luas.
Sementara itu, ahli strategi di Goldman Sachs Group Inc. memperkirakan saham akan mencetak rekor baru tahun depan, mengutip ketangguhan pertumbuhan ekonomi dan adopsi yang lebih luas dari AI guna mendukung kinerja korporasi.
Tim yang dipimpin oleh Ben Snider mempertahankan targetnya untuk S&P 500 mencapai sekitar 7.600 poin pada 2026, yang berarti kenaikan sekitar 10% dari level saat ini. Para peramal dan manajer aset lainnya juga berbagi pandangan optimis, dengan para strategis di firma termasuk Morgan Stanley, Deutsche Bank AG, dan RBC Capital Markets LLC juga memperkirakan saham AS akan naik lebih dari 10%.
Para forecasters juga secara umum optimis terhadap Eropa, dengan tidak ada satu pun dari 17 strategis yang disurvei oleh Bloomberg yang memperkirakan penurunan besar. Empat strategis, termasuk dari UBS Group AG dan Deutsche Bank AG, memperkirakan kenaikan hampir 13% dari penutupan Rabu.
Beberapa di antaranya menargetkan kenaikan dalam jangka waktu yang lebih singkat, bertaruh pada kenaikan lebih lanjut sebelum akhir 2025 saat investor beralih ke saham-saham yang sejauh ini masih berada di bayang-bayang sektor teknologi.
Robert Edwards, Kepala Investasi Edwards Asset Management, memperkirakan Indeks S&P 500 akan mencapai 7.000 pada akhir tahun ini dan kenaikan tersebut akan berlanjut hingga 2026.
“Klien kami jauh lebih khawatir tentang kehilangan keuntungan daripada secara euforia mengejar keuntungan yang lebih besar. Itu adalah perilaku klasik ‘Wall of Worry’, bukan tahap akhir pasar bullish,” katanya.
“Kekhawatiran tentang valuasi AI, pemilu tengah periode, keterjangkauan, inflasi, dan Mahkamah Agung yang membatalkan tarif adalah batu bata yang digunakan pasar untuk naik lebih tinggi.”
Tanpa katalis negatif di papan kalender, Karen Georges, manajer dana di Ecofi Investissements di Paris, mengatakan banyak yang menantikan rally Natal. “Investor bersemangat untuk membeli saham-saham yang tertinggal tahun ini, ini saat yang tepat untuk diversifikasi portofolio Anda saat ini.”
Indeks dolar Bloomberg stabil setelah dua hari penurunan berturut-turut, meskipun mencatat kerugian mingguan ketiga. Di pasar komoditas, emas mempertahankan kenaikan kecil sementara perak mundur dari rekor tertinggi.
“Oracle merupakan pengecualian di antara saham-saham AI besar karena telah menghabiskan arus kasnya dan mengambil utang untuk membiayai pengeluaran modal,” Sebastian Boyd, Ahli Strategis Makro dari Bloomberg dalam catatannya.
“Jika model ini sudah mengalami masalah karena kesulitan membangun pusat data, itu adalah berita buruk bagi semua perusahaan yang menjual peralatan ke dalam demam emas ini, serta potensi bagi raksasa cloud sendiri, yang valuasi mereka sebagian didasarkan pada pesanan yang besar dan terus bertambah.”
(bbn)





























