Logo Bloomberg Technoz

Saat itu, kata Purbaya, sejumlah negara seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, Jepang, Eropa hingga Amerika Serikat mengalami kontraksi lebar.

Kendati demikian, menurut dia, Indonesia relatif mencatatkan pertumbuhan positif 4,6% lantaran permintaan domestik yang solid.

“Hanya kita, China dan India yang tumbuh positif pada waktu itu. Kenapa? Karena kita perhatikan domestic demand,” tuturnya.

Di sisi lain, Purbaya juga mengingatkan untuk pentingnya melindungi pasar dalam negeri dari dominasi produk impor ilegal.

Dia mengatakan pemerintah bakal terus memperkuat pengawasan perbatasan dan memberantas praktik pemasukan barang yang merugikan industri lokal.

"Kemarin kan ada ribut-ribut, thrifting. Saya nggak peduli thrifting-nya. Pokoknya baju-baju bekas ilegal kita tutup. Nanti habis itu baja. Nanti lagi habis itu sepatu, habis itu yang lain-lain,” tuturnya.

Neraca Dagang Surplus

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca dagang Indonesia pada Oktober 2025 mencatatkan surplus US$2,39 miliar. Ini menjadikan Indonesia mengalami surplus selama 66 bulan sejak Mei 2020.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan surplus ini ditopang oleh komoditas non migas sebesar US$4,32 miliar dengan komoditas utama lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral serta besi dan baja.

Saat yang sama, neraca perdagangan migas tercatat defisit US$1,92 miliar dengan komoditas penyumbang adalah minyak mentah dan hasil minyak.

“Neraca dagang kumulatif, Januari hingga Oktober 2025 tercatat surplus US$35,88 miliar. Surplus ini ditopang komoditas non migas US$51,51 miliar serta migas masih defisit US$15,63 miliar,” kata Pudji dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (1/12/2025).

Tiga negara penyumbang surplus terbesar adalah Amerika Serikat (AS) sebesar US$14,93 miliar. India surplus US$11,29 miliar dan Filipina US$7,18 miliar.

Sementara itu, penyumbang defisit terdalam adalah China dengan defisit US$16,32 miliar, Australia defisit US$4,58 miliar dan Singapura US$4,17 miliar.

(prc/naw)

No more pages