Logo Bloomberg Technoz

Temuan ini berdasarkan hasil survei bertajuk Kajian Suara Anak: Mengedepankan Perspektif Anak dalam Program Makan Bergizi Gratis, yang disusun bersama Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) dan Wahana Visi Indonesia (WVI).

KPAI juga mencatat, alasan terbanyak terkait kualitas makanan yang dinilai kurang baik, bahkan sebagian menyebut menemukan makanan basi, berbau, atau terdapat serangga di dalamnya.

“Kualitas makanan yang buruk, tidak hanya berupa makanan basi dan berbau, namun juga ditemukan hewan seperti ulat, belatung, dan serangga di makanan,” ungkap salah satu peneliti KPAI.

Survei juga menemukan faktor lain yang membuat anak enggan menghabiskan menu MBG, seperti rasa yang tidak enak (16,6%), hambar atau tidak ada rasa (8,9%), serta ketidaksukaan terhadap jenis menu yang disajikan (8%). Sebagian kecil lainnya menyebut alasan “lain-lain” seperti porsi terlalu besar atau menu terlalu sering diulang.

Ketua KPAI, Margaret Aliyatul Maimunah, menekankan pentingnya mendengar langsung suara anak sebagai penerima manfaat utama program. “Selama ini kita lebih banyak mendengar perspektif orang dewasa. Melalui kajian ini, kami ingin memastikan suara anak juga didengar dalam evaluasi dan perbaikan pelaksanaan MBG ke depan,” ujarnya.

KPAI berharap hasil kajian tersebut dapat menjadi masukan bagi kementerian dan lembaga terkait untuk meningkatkan kualitas, cita rasa, serta ketepatan distribusi menu MBG agar benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan selera anak di sekolah.

(dec/spt)

No more pages