Logo Bloomberg Technoz

“Investor musiman atau yang masuk karena Fear of Missing Out (FOMO) mulai keluar, menyisakan the true believers atau investor sejati yang memiliki visi jangka panjang dan pemahaman fundamental yang lebih kuat,” terang dia. Penyusutan jumlah investor kemudian dapat diartikan sebagai fase kembali membangun fondasi ekosistem yang lebih kuat serta stabil.

Investor milenial hari ini tidak lagi terpaku pada spekulasi harga cepat, lanjut Oscar, namun lebih jauh kian berfokus pada analisis fundamental proyek dan use case teknologi blockchain yang solid. Dengan demikian ia masih percaya aset digital masih memiliki prospek secara jangka panjang.

Berbeda dengan Indodax, CEO Triv, Gabriel Rey, meragukan relevansi perbandingan data tersebut. Rey menekankan bahwa perbandingan tersebut menjadi tidak valid karena adanya perbedaan basis data dan metode pencatatan yang digunakan antara Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) yang berwenang tahun lalu dengan OJK yang berwenang saat ini.

"Nggak bisa, karena datanya beda. Ketika dipegang Bappebti dengan OJK, datanya jadi berubah," ujar Gabriel Rey. Rey menegaskan bahwa jika mengacu pada data OJK yang dirilis sejak awal tahun 2025 (year-to-date/ytd), jumlah investor justru menunjukkan pertumbuhan kuat, bukan penurunan.

"Untuk pertumbuhan jumlah investor saya rasa tidak ada penurunan karena berdasarkan data OJK, jumlah investor di Indonesia saat ini sudah 18,61 juta. Artinya dalam tahun ini kita sudah bertumbuh 44%," tegas Rey.

Ia menyimpulkan, penurunan investor tidak terjadi dalam tahun ini. Yang mungkin terjadi adalah perbedaan data yang disebabkan oleh transisi pengawasan dari Bappebti ke OJK. "Jadi kita mengacu kepada data yang sudah diterbitkan OJK dari Januari sampai tahun ini, itu sudah bertumbuh sekitar 44%," pungkas Rey.

(wep)

No more pages