Demikian pula di IEK. Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja (IEKLK) juga melonjak 8,9 poin pada Oktober dibandingkan September menjadi 132.
Data ini menunjukkan bahwa mencari kerja semakin mudah. Sebelumnya, kondisi pasar tenaga kerja yang membaik juga terlihat dari rilis data Badan Pusat Statistik (BPS).
Pekan lalu, BPS mengumumkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) per Agustus berada di 7,46%. Turun dibandingkan Agustus tahun lalu yang sebesar 7,47%.
Per Agustus, terdapat 146,54 juta rakyat Indonesia yang bekerja. Bertambah 1,9 juta jiwa dalam setahun terakhir.
“Selama Agustus 2024-Agustus 2025, lapangan usaha Pertanian, Akomodasi dan Makan Minum, serta Industri Pengolahan menjadi lapangan usaha tertinggi peningkatan tenaga kerja, yaitu masing-masing sekitar 0,49 juta orang, 0,42 juta orang, dan 0,30 juta orang,” sebut laporan BPS.
Struktur pekerjaan pun membaik. Per Agustus, sebanyak 42,2% pekerja bekerja di sektor formal dengan skema pengupahan dan jaminan yang lebih memadai. Angka ini naik dibandingkan Agustus 2024 yang sebesar 40,6%.
“Proporsi penduduk yang bekerja pada kegiatan formal mengalami peningkatan selama Agustus 2024-Agustus 2025, utamanya didorong oleh meningkatnya penduduk yang bekerja sebagai buruh, karyawan atau pegawai,” kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Moh Edy Mahmud.
Manufaktur Menggeliat
Data lain yang menunjukkan optimisme adalah aktivitas industri manufaktur. S&P Global melaporkan aktivitas manufaktur Indonesia yang diukur dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) berada di 51,2 untuk periode Oktober. Lebih tinggi dibandingkan September yang sebesar 50,4.
PMI di atas 50 menandakan aktivitas yang berada di zona ekspansi, bukan kontraksi. Aktivitas manufaktur Indonesia berada di fase ekspansi dalam tiga bulan beruntun.
Kunci dari peningkatan PMI pada Oktober adalah kenaikan permintaan. Permintaan baru (new orders) naik tiga bulan beruntun. Pertumbuhan new orders pada Oktober menjadi yang tertinggi sejak Maret atau tujuh bulan terakhir.
Pertumbuhan permintaan membuat dunia usaha meningkatkan kapasitas produksi dan rekrutmen tenaga kerja. Oktober mencatat pertumbuhan tercepat dalam lima bulan terakhir. Ini pula yang kemudian membuat masyarakat merasa tidak lagi terlalu sulit mencari pekerjaan.
Pertumbuhan Ekonomi
Dari dua data tersebut, IKK dan aktivitas manufaktur, sepertinya ekonomi Indonesia memulai kuartal IV-2025 dengan solid. Oleh karena itu, bukan tidak mungkin pertumbuhan ekonomi kuartal pamungkas 2025 bakal lebih tinggi.
Pada kuartal III-2025, ekonomi Ibu Pertiwi tumbuh 5,04% year-on-year/yoy. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa belum lama ini memperkirakan ekonomi kuartal IV-2025 bisa tumbuh 5,5% yoy. Jika terwujud, maka jadi yang terbaik sejak kuartal I tahun lalu.
“Full year 2025 bisa 5,2%,” tegas Purbaya.
Pelaku pasar pun berpendapat senada. Faisal Rachman, Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI), menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi kumulatif sembilan bulan pertama 2025 ada di 5,01% yoy.
“Ini sudah lebih baik dibandingkan semester I-2025 yang di bawah 5% yoy. Oleh karena itu, memberi sinyal bahwa trayektori atau arah pertumbuhan ekonomi sudah lebih kuat secara bertahap,” sebut Faisal dalam risetnya.
Ke depan, Faisal menilai momentum kuat itu akan tetap terjaga. Konsumsi rumah tangga akan makin kuat karena perbaikan di pasar tenaga kerja dan inflasi yang terkendali.
“Prospek investasi juga masih cerah, sering tren suku bunga rendah yang bisa menekan biaya dan meningkatkan minat ekspansi,” tambahnya.
Untuk 2025, Faisal memperkirakan ekonomi Nusantara tumbuh 5-5,1%. Lebih tinggi ketimbang perkiraan sebelumnya yaitu di bawah 5%.
“Menjaga stabilitas politik menjadi kunci. Dengan demikian, kebijakan fiskal dan moneter bisa lebih ekspansif.
“Namun, para pembuat kebijakan perlu menyeimbangkan antara mendukung pertumbuhan ekonomi dengan menjaga stabilitas ekonomi makro. Defisit transaksi berjalan (current account deficit) bisa melebar sebagai dampak dari kebijakan yang pro-pertumbuhan ekonomi,” terang Faisal.
(aji)





























