Logo Bloomberg Technoz

Meskipun keluhan terhadap harga tinggi meningkat selama lima bulan berturut-turut, ekspektasi inflasi jangka panjang justru sedikit mereda. Konsumen memperkirakan harga akan naik rata-rata 3,6% per tahun dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan — level terendah dalam tiga bulan terakhir. Namun, ekspektasi harga untuk setahun mendatang masih menunjukkan sedikit kenaikan, menurut data yang dirilis Jumat.

“Para konsumen merasakan tekanan terhadap kondisi keuangan pribadi mereka dari berbagai arah,” ujar Joanne Hsu, Direktur survei University of Michigan, dalam pernyataannya. “Mereka juga memperkirakan pasar tenaga kerja akan terus melemah di masa depan dan bahwa mereka secara pribadi akan terdampak.”

Data terpisah dari Federal Reserve Bank of New York yang juga dirilis Jumat menunjukkan kekhawatiran terhadap pasar tenaga kerja meningkat selama tiga bulan berturut-turut. Persepsi kemungkinan kehilangan pekerjaan dalam satu tahun ke depan naik menjadi 43% pada Oktober, level tertinggi sejak April.

Ukuran kondisi keuangan pribadi dalam survei University of Michigan turun ke titik terendah dalam enam tahun, sementara kondisi pembelian barang-barang besar dinilai terburuk sejak pertengahan 2022.

Kekhawatiran terhadap pengangguran juga melonjak bulan ini, dengan 71% responden memperkirakan tingkat pengangguran akan naik dalam setahun ke depan — lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun lalu.

“Selain itu, ekspektasi konsumen terhadap kemungkinan kehilangan pekerjaan pribadi juga memburuk bulan ini, mencapai level tertinggi sejak Maret 2025,” tambah Hsu.

Sebelumnya, pada Rabu, ADP Research Institute melaporkan bahwa jumlah tenaga kerja sektor swasta hanya bertambah 42.000 orang pada Oktober — peningkatan pertama dalam tiga bulan terakhir. Laju perekrutan yang lambat, ditambah dengan serangkaian pengumuman PHK dari perusahaan besar, menjelaskan mengapa konsumen tetap pesimistis terhadap kondisi pasar tenaga kerja.

Indeks ekspektasi masa depan juga merosot ke level terendah dalam enam bulan terakhir, yakni 49. Penutupan pemerintahan terpanjang dalam sejarah AS kini mengaburkan pandangan terhadap kondisi ekonomi, karena publikasi sejumlah data penting dari lembaga federal tertunda. Sumber data swasta, termasuk survei University of Michigan, menjadi alternatif sementara di tengah kekosongan data tersebut. Survei November ini dilakukan antara 21 Oktober hingga 3 November.

“Meski pemulihan setelah penutupan pemerintahan berakhir nantinya masih akan membuat sentimen berada di bawah standar historis, kami tetap memperkirakan pertumbuhan konsumsi yang cukup sehat pada kuartal ini dan tahun depan. Keterkaitan antara sentimen dan pengeluaran memang cenderung lemah dalam beberapa tahun terakhir,” ujar Thomas Ryan, Ekonom Amerika Utara di Capital Economics, dalam sebuah catatan riset.

(bbn)

No more pages