Logo Bloomberg Technoz

“Di restrukturisasi mau tidak mau utang WIKA itu harus disesuaikan. Ini sejalan dengan rencana restrukturisasi utang ke China yang bisa sampai 60 tahun. Jadi restrukturisasi memang menjadi alternatif agar WIKA bisa bertahan,” ujar Tauhid.

Menurut Tauhid, restrukturisasi utang tidak cukup hanya dengan penjadwalan ulang pembayaran, tetapi juga harus disertai dengan penyesuaian tingkat bunga pinjaman agar WIKA benar-benar memiliki ruang bernapas dalam memenuhi kewajibannya.

“Ketika di restrukturisasi, bunganya harusnya bisa dikurangi. Jangan sampai bebannya makin berat. Kalau bunganya makin besar, justru masalah baru yang muncul,” imbuh Tauhid.

Tauhid menambahkan, selain melakukan restrukturisasi, WIKA juga membutuhkan dukungan tambahan dari Pemerintah, terutama untuk memperoleh proyek-proyek baru yang memiliki potensi keuntungan tinggi.

“Kalau untuk proyek kereta cepat saya kira sudah tidak mungkin, tapi untuk proyek baru infrastruktur masih bisa. Itu penting agar WIKA bisa menutup kerugian yang ada,” tambahnya. 

Sementara itu, Pengamat Tata Kota dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, menilai langkah restrukturisasi terhadap WIKA kini sepenuhnya berada di tangan Danantara, lembaga pengelola BUMN hasil transformasi pasca-pembubaran Kementerian BUMN.

Menurut Yayat, langkah penyehatan WIKA bisa dilakukan melalui konsolidasi antar perusahaan konstruksi pelat merah untuk menciptakan efisiensi dan memperkuat modal.

“Kalau di likuidasi jelas berat. Tapi opsi penggabungan beberapa badan usaha bisa menjadi jalan tengah untuk penyehatan,” ungkapnya.

Dengan restrukturisasi yang terencana dan dukungan kelembagaan dari Danantara, WIKA diharapkan mampu memulihkan kesehatan keuangannya, memperkuat likuiditas, serta kembali berperan aktif dalam mendukung pembangunan nasional secara berkelanjutan.

(tim)

No more pages