Edi menyampaikan, Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi naik proyeksi perutmbuhan ekonomi global menjadi 3,2%. Pertumbuhan ekonomi negara berkembang diperkirakan mencapai 4,2%.
"Pertumbuhan ekonomi Tiongkok dan Singapura pada kuartal III-2025 tumbuh melambat. Korea Selatan dan Vietnam diperkirakan tumbuh lebih kuat. Ekonomi beberapa mitra dagang Indonesia tetap tumbuh," kata Edi.
Harga komoditas andalan ekspor bervariasi. CPO dan bijih besi naik. Batu bara dan minyak mentah naik secara kuartalan tetapi turun secara tahunan. Harga gas alam turun secara kuartalan tetap naik secara tahunan. Sementara nikel mencatat penurunan.
"Sepanjang kuartal III-2025, Indonesia masih mencatat surplus neraca perdagangan. Ekspor mencapai US$ 74,39 miliar atau tumbuh 8,96% yoy, impor US$ 60,39 miliar atau turun 2,09% yoy," jelas Edi.
Kinerja perekonomian pada kuartal III-2025 ditopang konsumsi yang terjaga. Terlihat dari konsumsi per kapita jasa makanan-minuman-akomodasi serta barang dan jasa lainnya yang tumbuh 5,76% yoy dan 7,49% yoy.
"Aktivitas produksi terjaga dengan PMI yang berada di zona ekspansif," tambah Edi.
Realisasi investasi dalam negeri dan asing tumbuh 13,89% yoy. Mobilitas masyarakat juga meningkat.
"Kebijakan ekonomi juga menopang seperti pengendalian inflasi, penetapan BI Rate, serta kebijakan fiskal dalam mendoorng efektivitas belanja," tutur Edi.
(aji)


























