Meski begitu, Fachri tidak menutup kemungkinan adanya kolaborasi lintas lembaga untuk menindaklanjuti temuan tersebut.
“Mungkin nanti kita akan coba cek lebih lanjut dan juga bisa diinfokan lebih lanjut oleh teman-teman dari BRIN,” katanya.
Pernyataan ini merespons hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang sebelumnya melaporkan ditemukannya partikel mikroplastik pada air hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Temuan tersebut menimbulkan kekhawatiran akan dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.
Menurut para ahli, partikel mikroplastik dapat terbentuk dari degradasi limbah plastik di darat yang kemudian terangkat ke atmosfer melalui angin atau proses penguapan, lalu jatuh kembali bersama hujan. Proses ini menunjukkan bahwa polusi plastik kini telah memasuki siklus air global.
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai sebagai langkah mitigasi sederhana.
(dec/spt)






























