Logo Bloomberg Technoz

Produsen mobil yang berbasis di Shenzhen ini menjual 1,15 juta kendaraan energi baru, termasuk model listrik murni dan plug-in hybrid, pada kuartal ketiga, turun 1,8% dari tahun sebelumnya. Pesaingnya, Geely Automobile Holdings dan Chongqing Changan Automobile Co melaporkan kenaikan penjualan masing-masing 96% dan 84%.

Menurut laporan media, BYD sebelumnya memangkas target penjualan tahun 2025 sebesar 16% menjadi 4,6 juta unit. Perusahaan tidak merilis angka resmi dalam laporan keuangan yang diterbitkan pada Kamis malam. 

Margin bruto produsen mobil ini terkontraksi menjadi 17,6% dari 21,9% pada periode yang sama tahun lalu, meski meningkat dari 16,3% pada kuartal kedua. Hal ini menunjukkan tekanan yang dihadapi BYD akibat periode diskon berkepanjangan, yang telah menopang pesatnya pertumbuhan pasar mobil listrik China, tetapi juga mengundang sorotan dari otoritas Beijing.

Para analis mengaitkan perlambatan penjualan terutama dengan upaya BYD untuk mengurangi persediaan menjelang peluncuran model 2026. Menurut catatan sebelumnya yang diterbitkan Citigroup Inc, jumlah persediaan absolut dan relatif produsen mobil tersebut turun secara bulanan pada September.

"BYD yang 'mengurangi stoknya' dapat kembali disukai pasar berkat tren margin yang relatif defensif dan keunggulan biaya dibandingkan pesaingnya," kata analis, termasuk Jeff Chung, dalam catatannya, jika bauran ekspor perusahaan secara signifikan membaik pada kuartal pertama 2026.

Dorongan agresif BYD ke pasar luar negeri menjadi pilar pertumbuhan yang semakin penting bagi perusahaan mengingat tantangan yang dihadapinya di pasar domestik. Menurut data yang sebelumnya dirilis perusahaan, volume penjualan di luar negeri tumbuh 160% dibandingkan tahun sebelumnya pada kuartal ketiga, didorong oleh permintaan dari Eropa dan Amerika Latin.

Di dalam negeri, BYD juga bisa diuntungkan dari potensi lonjakan penjualan pada kuartal terakhir tahun ini karena China berencana menghapus beberapa subsidi dan insentif pajak. Beberapa pemerintah daerah telah mengakhiri program-program yang sebelumnya membantu meningkatkan penjualan kendaraan listrik.

Namun, dalam jangka panjang, penghapusan insentif tersebut, yang seringkali menyasar pembeli yang sensitif terhadap harga, berisiko mengurangi keputusan pembelian dan dapat mengalihkan tekanan harga lebih besar kembali ke produsen dan dealer mobil. Sehingga, memaksa mereka untuk menyerap biaya lebih tinggi atau memberi diskon lebih besar guna memperlancar penjualan.

BYD juga menghadapi hambatan struktural akibat meningkatnya pengawasan pihak berwenang terhadap sektor kendaraan listrik China. Sektor otomotif terjebak dalam gerakan anti-involusi secara lebih luas saat Beijing berusaha mengakhiri perang harga berkepanjangan dan brutal yang menjerumuskan beberapa perusahaan ke ambang kebangkrutan. Namun, upaya pemerintah sejauh ini tampaknya hanya berdampak terbatas pada produsen mobil. 

Perusahaan juga mengalokasikan lebih banyak investasi ke penelitian dan pengembangan, yang akan berkontribusi pada pembaruan produk di masa depan dan peningkatan produksi model-model premium bermargin tinggi di bawah merek mewah Yangwang dan Fangchengbao tahun depan.

(bbn)

No more pages