Hanya saja, perundingan bisnis antara Pertamina Patra Niaga dengan jaringan SPBU swasta belum menunjukkan titik terang sampai berita ini tayang.
“Pemerintah menyerahkan proses negosiasi ini dalam B to B, maka negosiasi dilakukan terpisah masing-masing badan usaha swasta dengan Patra Niaga,” tuturnya.
Adapun, lima badan usaha hilir migas swasta yang beroperasi di Indonesia dan terlibat dalam rapat pembahasan koordinasi BBM dengan Kementerian ESDM akhir-akhir ini a.l. Shell Indonesia (Shell), PT Aneka Petroindo Raya (BP-AKR), Vivo, PT ExxonMobil Lubricants Indonesia (Mobil), dan PT AKR Corporindo Tbk. (AKR).
Negosiasi Alot
Maju–mundurnya kesepakatan pembelian base fuel dari Pertamina oleh badan usaha hilir migas swasta dimulai ketika PT Vivo Energy Indonesia (SPBU Vivo) menyepakati membeli 40.00 barel base fuel dari Pertamina.
Hanya saja, Vivo lantas membatalkan komitmen pembelian BBM dasaran ketika PPN sudah kadung mengimpor produk tersebut sebesar 100.000 barel.
Saat itu, Vivo batal membeli BBM dasaran dari PPN sebab terdapat kandungan etanol sebesar 3,5% dalam BBM tanpa campuran aditif dan pewarna tersebut.
Manajemen Vivo menilai kandungan etanol sebesar 3,5% pada BBM dasaran tak sesuai dengan spesifikasi yang diminta perusahaan.
Di sisi lain, PT Aneka Petroindo Raya, perusahaan operator SPBU BP-AKR, mengungkapkan terdapat satu dari tiga persyaratan yang belum dapat dipenuhi Pertamina dalam proses jual-beli tersebut hingga akhirnya perusahaan batal membeli BBM dasaran dari Pertamina.
Presiden Direktur BP-AKR Vanda Laura menjelaskan, Pertamina belum bisa menunjukan dokumen certificate of origin, yakni dokumen sertifikat yang menunjukan asal impor atau ketertelusuran sumber BBM dasaran yang ditawarkan Pertamina tersebut.
Dokumen tersebut padahal dibutuhkan BP Plc., raksasa migas Inggris, untuk menghindari potensi pengenaan sanksi imbas mengimpor BBM dari negara yang diembargo.
PPN kembali mengimpor 100.000 barel BBM dasaran tahap kedua pada Kamis (2/10/2025), dengan spesifikasi yang diharapkan sesuai dengan permintaan BU swasta. Kendati demikian, kargo BBM kedua tersebut kembali tak laku.
(prc/naw)





























