Sejumlah ekonom, baik dari dalam maupun luar negeri, mendesak Beijing menetapkan target yang jelas untuk meningkatkan porsi konsumsi rumah tangga terhadap produk domestik bruto (PDB). Saat ini, rasio tersebut hanya sekitar 40%, jauh di bawah rata-rata global sebesar 56% menurut data Bank Dunia, dan masih tertinggal dari angka hampir 60% yang umumnya terjadi di negara berpendapatan tinggi.
Dokumen yang dirilis Selasa ini juga memberikan rincian tambahan atas komunike singkat yang dipublikasikan setelah pertemuan empat hari tersebut, yang menegaskan fokus berkelanjutan China pada kemandirian teknologi.
Pertemuan itu membahas rancangan rencana pembangunan lima tahun China berikutnya — serangkaian kebijakan yang menjadi pedoman arah pembangunan sekaligus mencerminkan prioritas kepemimpinan negara tersebut. Presiden Xi Jinping memimpin langsung penyusunan program ini dan menjelaskan proposal kebijakan tersebut dalam diskusi di Beijing, seperti dilaporkan media pemerintah.
China, kata Xi, perlu bertindak lebih cepat untuk membentuk “sirkulasi ekonomi domestik yang kuat” dan “menggunakan stabilitas internal untuk menghadapi ketidakpastian global,” sebagaimana dikutip dari pernyataannya yang dirilis Kantor Berita Xinhua, Selasa.
Rencana lengkap pembangunan lima tahun itu baru akan disahkan dan diumumkan pada Maret mendatang dalam sidang tahunan Kongres Rakyat Nasional.
Pemerintah China tengah menyiapkan arah masa depan ekonominya di tengah meningkatnya tekanan dan proteksionisme global. Ketegangan dengan Amerika Serikat diperkirakan juga akan terus berlanjut, meski kedua negara berhasil mencapai kesepakatan dagang sementara.
Meningkatnya proteksionisme terhadap China menjadi alasan utama di balik dorongan Beijing untuk mengembangkan teknologi dan manufaktur berteknologi tinggi, terutama setelah Washington memperluas sanksi terhadap berbagai sektor strategis, mulai dari semikonduktor hingga farmasi.
Namun, di sisi lain, konsumsi domestik masih belum mampu menyerap seluruh produksi industri dalam negeri yang berlebihan. Kondisi ini menyebabkan kelebihan pasokan, menekan harga, dan memicu tekanan deflasi yang kini telah berlangsung paling lama dalam sejarah China modern.
Sebagai tanda bahwa pembuat kebijakan semakin menyadari pentingnya peningkatan konsumsi rumah tangga, komunike pleno kali ini menyebut kata “konsumsi” sebanyak empat kali, dibanding hanya satu kali dalam pernyataan serupa pada tahun 2020.
(bbn)




























