“Kita sekarang membutuhkan sekitar 2,6 juta ton metanol per tahun. Kapasitas produksi kita hanya 300-400 ribu ton,” kata Bahlil.
Pemerintah telah mendorong proyek pabrik metanol di Bojonegoro, Jawa Timur yang sedang dalam tahap pembangunan.
Proyek tersebut memiliki nilai investasi US$1,2 miliar (sekitar Rp19,6 triliun) dan ditargetkan rampung pada akhir 2027.
Sokong Biodiesel B50
Perhatian pemerintah belakangan terkait dengan investasi pabrik metanol makin serius setelah rencana mandatori bauran biodiesel 50% pada solar. Program itu diharapkan efektif tahun depan.
Menurut Bahlil, saat ini biodiesel B50 sudah melalui tiga kali uji coba, meski uji finalnya masih membutuhkan waktu sekitar 6—8 bulan.
Dengan diterapkannya mandatori B50 pada tahun depan, Bahlil berharap impor solar akan dapat distop setidaknya mulai semester II-2026.
Bahlil berharap pabrik metanol di Bojonegoro dapat memangkas ketergantungan impor metanol nantinya, yang menjadi komponen penting pembentuk biodiesel.
“Supaya semua campuran untuk mendapatkan FAME antara CPO dan metanol diharapkan semuanya adalah produksi dalam negeri, ini yang kita dorong,” kata Bahlil.
Di sisi lain, pemerintah tengah bersiap untuk untuk memangkas 5,3 juta ton ekspor minyak sawit mentah (CPO) pada 2026 guna menyokong program mandatori biodiesel.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan produksi CPO Indonesia mencapai sekitar 46 juta ton per tahun, tetapi hanya 20 juta ton yang digunakan untuk diprosses di dalam negeri. Adapun, 26 juta ton lainnya masih dijual untuk pasar ekspor.
“[Dalam kaitan itu,] B50 membutuhkan CPO 5,3 juta ton. Ekspor ini nantinya kita tarik 5,3 juta ton, kemudian dijadikan biofuel, dijadikan pengganti solar,” kata Amran di kompleks istana kepresidenan, Kamis (9/10/2025).
Dengan memastikan kecukupan bahan baku untuk menunjang mandatori B50, Amran menyebut impor solar nantinya akan dihentikan mulai tahun depan.
“Nantinya, ini green energy, kita bisa menutupi kebutuhan dalam negeri, tetapi menghemat devisa karena kita menyetop impor. Ada yang terpenting, kalau ekspor kita yang dulunya 26 juta, tiba-tiba berkurang 20 juta, harga pasti naik,” terangnya.
(naw)





























