Dia memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan akan lebih signifikan pada Oktober, November, hingga December 2025.
"Harapan saya, dengan uang yang tumbuh tadi pertumbuhannya (kredit bank) makin kencang, sehingga ekonomi juga tumbuh makin kencang," tegas Purbaya.
Bendahara Negara juga berjanji akan terus memantau perkembangan dampak likuiditas negara yang ditempatkan ke Himbara. "Kami akan monitor terus dari waktu ke waktu, Kalau kurang kita akan tambah lagi uang dari sistem," lanjut Purbaya.
Sebelumnya, BI melaporkan kinerja kredit perbankan pada September 2025 tumbuh tipis menjadi 7,7% secara tahunan (yoy), dari pertumbuhan kredit pada bulan sebelumnya, yakni 7,56% per Agustus 2025.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyebutkan permintaan kredit belum kuat, dipengaruhi oleh sikap pengusaha yang menunggu dan mengamati atau wait and see. Kemudian, optimalisasi pembiayaan oleh korporasi masih minim, dan suku bunga kredit juga masih tinggi.
“Kredit perbankan perlu terus ditingkatkan,” ujar Perry Warjiyo dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (22/10/2025).
Perkembangan ini tercermin dari fasilitas pinjaman dan plafon pembiayaan yang belum dicairkan atau undisburse loan pada September 2025 masih besar, yakni mencapai Rp2.374,8 triliun atau 22,54% dari plafon kredit yang tersedia. Ini terutama pada segmen korporasi, dengan kontribusi utama dari sektor perdagangan, industri, dan pertambangan, serta kredit modal kerja.
"Minat penyaluran kredit bank pada nasabah cukup baik, tercermin dari persyaratan pembiayaan atau lending requirement, kecuali segmen konsumsi dan Usaha Menengah, Kecil, dan Mikro (UMKM), seiring sikap kehati-hatian pada kedua segmen tersebut," kata dia.
(lav)





























